May 12

Ahimsa dan Kasih

anjing

Oleh: Sri Rahayu Puspawati

Sumber: Majalah Meditasi Angka Edisi 11 Tahun 2009

 

            Seorang lelaki miskin berjalan tidak tentu arah tujuan. Ia sebatang kara, berumah di atas bumi di bawah langit alias homeless. Dalam perjalanannya yang tanpa tujuan dan tanpa akhir itu sampailah ia di sebuah kerajaan yang makmur dan sejahtera. Raja yang memerintah terkenal sangat adil dan bijaksana serta memperhatikan rakyatnya.

Hari itu ia merasa sangat lapar. Sudah tiga hari perutnya belum diisi. Ia berjalan terseok-seok dan hamper jatuh pingsan. Teriknya matahari musim panas membuat ia menjadi semakin lemah. Tiba-tiba…, pandangannya tertumpu pada pohon perindang jalan. Setelah ia perhatikan dengan baik, ternyata perindang sepanjang jalan itu adalah pohon manga yang semuanya sedang sarat dengan buah yang ranum. “Cacing-cacingku, berhentilah menggeliat, kita akan segera pesta manga matang” gumamnya sambal mengelus-elus perutnya yang buncit karena lapar. Hal itu membuat rasa laparnya semakin menjadi-jadi.

Lelaki itu berusaha mencari-cari sesuatu untuk dapat dipakai mencolok mangga. Tetapi, ia tidak menemukan apapun di sekitarnya selain beberapa bongkah batu. Diambilnya sebongkah batu sebesar kepalan tangan lalu dilemparkannya kea rah buah-buah manga yang bergelayutan di ranting. Empat buah mangga matang berjatuhan ke atas tanah dihadapannya. Ia memungut keempat buah mangga itu, sambal duduk santai di bawah pohon, dilahapnya mangga itu satu per satu. Selagi asyik-asyiknya makan mangga, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran empat orang pengawal kerajaan berwajah bengis di hadapannya. Tanpa berkata sepatahpun, para pengawal kerajaan langsung menangkap dan mengikat tangannya. Lelaki tersebut benar-benar bingung dan tidak mengerti mengapa dirinya ditangkap? Ada apa gerangan?

Pengawal kerajaan langsung memasukkan lelaki itu ke penjara gelap yang dihuni tikus-tikus dan kecoa. Ia menjadi semakin ngeri. Rupanya, tanpa disadari batu yang ia pakai melempar mangga, sebelum jatuh kembali ke bumi, ternyata batu itu iseng singgah di kepala raja yang sedang berjalan-jalan memeriksa keadaan negerinya. Kontan sang raja jatuh tersungkur tidak sadarkan diri. Para pengawal segera melarikan sang raja ke rumah sakit kerajaan.

Setelah dua hari lelaki itu mendekam di penjara gelap gulita, tiba-tiba pintu jeruji besi dingin itu terbuka. Dua tentara segera menyeretnya ke luar tanpa memberitahu ia akan dibawa kemana.

Pagi itu sang raja sudah merasa lebih baik dan bisa duduk kembali di singasana kerajaan. Dihadapannya sudah hadir hakim kerajaan siap mengadili si miskin. Dengan kedua tangan masih terikat rantai, tubuh ringkihnya dilemparkan dihadapan sang hakim dan seluruh perangkat kerajaan yang sudah tidak sabar ingin mendengar hukuman terberat untuk dijatuhkan pada si miskin. Rakyat yang menghadiri pengadilan pun tidak mau ketinggalan ikut meneriakkan makian dan umpatan pada si miskin yang telah melukai raja yang amat mereka cintai itu. “Bunuh saja…”. “Bunuh saja…” teriak salah seorang dari mereka yang langsung disambut riuh oleh yang lain. Si miskin tidak sanggup menahan rasa takut, lututnya gemetar dan ia jatuh bersimpuh dihadapan sang raja. Air matanya menetes bercampur dengan keringat dingin yang terus mengucur. Hakim kerajaan memulai siding. “Hey kamu…” teriaknya, “Kenapa kamu melempar batu?”. “Ayo Jawab!!” dengan gemetar si miskin menjawab terbata-bata, “A…ampu…nnn…tuan…, hamba…melempar batu…untuk…mendapat mangga”. Melihat keadaan si miskin sang raja terenyuh hatinya, ia lalu memerintahkan pengacara untuk duduk, dan ia sendiri yang ingin melanjutkan peradilan itu.

“Apa kamu dapat mangga yang kamu lempar itu?”, tanya raja.

“I…iya tuan”

“Berapa mangga yang kamu dapat?”

“Empat tuan”

“Sudah kamu makan semua?”

“Baru dua tuan”

“Berarti kamu sangat lapar sekrang”

Sambil menunduk si miskin mengangguk lemah. Raja segera memerintahkan pengawalnya, “Pengawal, ambilkan ia makanan yang lezat dan beri ia makan sampai kenyang”.

Perintah sang raja kali ini sungguh membuat semua yang hadir kebingungan. Hukuman pun dijatuhkan langsung oleh sang raja. Si miskin diharuskan mandi yang bersih lalu diberi tempat tinggal dan pekerjaan sebagai penjaga kuda di istana raja.

Perdana menteri sungguh tidak habis pikir dan sesungguhnya tidak bisa terima si miskin diberikan pekerjaan serta tempat tinggal yang layak di istana raja. Karena tidak mampu menahan diri, akhirnya pada suatu hari ia menyampaikan perasaannya pada sang raja. Sang raka menjawab, “Perdana menteri, menurutmu yang punya akal pikiran serta budi pekerti itu siapa? Manusia apa pohon?”.

“Tentu saja manusia tuanku, tidak bisa diragukan lagi”

“Nah…, kalu pohon yang dilempar lelaku itu berbalik memberikan buah untuk menghilangkan rasa laparnya, lalu mengapa kita… manusia yang punya budi pekerti dilempar dengan batu yang sama tetapi justru memberikan hukuman?”

Raja lanjut berkata, “seharusnya aku malu, karena ternyata di negeriku ada orang yang semiskin dan selapar dia, tanpa sepengetahuanku. Bukankah kewajibanku untuk memperhatikan kesejahteraan setiap orang yang hidup di bawah naunganku?”, “lemparan batu itu adalah peringatan bagiku”.

Mendengar kata-kata bijaksana raja, perdana menteri langsung menjatuhkan diri di kaku sang raja. Ia sangat terharu dan ternyata ia tidak salah mengabdi pada seorang raja yang selain adil dan bijaksana ternyata juga memiliki hati yang penuh kasih…

Semoga bermanfaat…Shantih…

May 07

Mengorbankan Kewajiban Demi Kewajiban

Jpeg

kārpaya-doo’pahata-svabhāva

pcchāmi tvāṁ dharma-sammūḍha-cetāḥ

yac chreya syān niścita brūhi tan me

śiyas te’ham śādhi māṁ tvāṁ prapannam

 

“Bhagavad Gita II.7”

Terjemahan:

Kesadaran hamba menjadi sangat lemah dan kalut dipenuhi kebingungan tentang kewajiban hamba, maka hamba bertanya kepada Anda, beritahukanlah dengan pasti kepada hamba yang mana lebih baik. Hamba adalah murid Anda, berikanlah pelajaran kepada hamba, dan hamba menyerahkan diri sepenuhnya kepada Anda.

            “Dilema, bingung, kacau”. Kata-kata yang mungkin tepat digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang (Arjuna) dari untaian kecil percakapan suci diatas. Iya, memang benar sekali. Siapa yang tidak bingung? Siapa yang tidak merasa sedih? Ketika kita harus dituntut untuk bertempur melawan Kakek yang menjadi sumber kasih sayang, Guru yang dengan begitu tulus menanamkan pengetahuan pada diri. Saudara, Keluarga yang merupakan teman hidup untuk saling mengasihi.

            Adalah sebuah kewajiban untuk menghormati dan menyayangi orang-orang itu. Tetapi adalah sebuah kewajiban pula untuk menegakkan kebenaran walau harus memaksa diri mengangkat senjata untuk bertempur melawan oang-orang itu. Lalu yang manakah menjadi kewajiban yang lebih utama? Kewajiban yang lebih mulia?

            “Hamba adalah murid Anda. hamba menyerahkan diri sepenuhnya kepada Anda”. Dari kalimat tersebut, Arjuna terkesan memiliki bhakti yang jauh lebih mendalam kepada gurunya (Krsna), jika dibandingkan dengan gurunya yang lain (Drona dan Bhisma). Hal itu terkait dengan pernyataan, bahwa Tuhan tidak pernah tertarik kepada orang baik, tetapi Tuhan lebih tertarik kepada orang yang menyerahkan diri sepenuhnya untuk melakukan sebuah pelayanan. Hal itu terbukti dengan keberuntungan seorang Arjuna mendapat anugrah menerima secara langsung wejangan-wejangan suci dari Krsna. Bukanlah Dharmawangsa yang memperoleh berkah itu, padahal dia dikenal sebagai raja Dharma, Raja Kebaikan. Tetapi berkat penyerahan diri sepenuhnya dari Arjunalah yang membawanya semakin dekat dengan-Nya. Ketika kita telah mampu menyerahkan diri sepenuhnya untuk melaksanakan segala yang diperintahkan oleh guru, maka tanpa perlu mencarinya, pengetahuan itu akan menjadi berkah yang guru berikan pada muridnya.

            Teringat akan sebuah kisah seorang Pendeta yang teramat tersohor namanya karena kejujuran yang selalu menjadi landasan dirinya. Dia sama sekali tidak pernah berkata bohong kepada siapapun. Suatu hari ada seorang pedagang yang akan dirampok oleh sekelompok preman yang berbadan besar dan wajahnya sangat menyeramkan. Pedagang itu merasa sangat ketakutan dan segera melarikan diri menuju sebuah hutan yang sangat sepi untuk bersembunyi. Ternyata hutan itu adalah hutan dimana pendeta yang budiman itu tinggal pada sebuah tempat pertapaannya. Tanpa sengaja pendeta itu pun melihat pedagang yang melintas di hutan itu. Tidak lama kemudian, sekelompok preman itu juga sampai di hutan itu dan menanyakan kepada pendeta itu perihal pedagang yang sedang dicarinya. “Hai pendeta, apakah anda melihat seseorang lewat disini?”. Pendeta dalam hatinya merasa kebingungan untuk menjawabnya, sebab dia merasa bahwa orang-orang ini adalah preman yang akan berbuat jahat kepada orang yang dilihatnya tadi lewat. Dalam hatinya, “Jika saya jujur, tentu orang-orang ini pasti akan membunuh orang yang tadi itu. Tetapi kalua saya berbohong, saya adalah pendeta yang terkenal akan kejujuran saya”.

            Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya pendeta itu pun menjawab dengan pelan “Iya, saya melihatnya menuju kearah sana”. Tanpa berpikir panjang pun preman-preman itu langsung mencari kearah yang ditunjukkan, dan memang benar preman-preman itu menemukannya ditempat itu. Apa yang dipikirkan oleh pendeta itu benar terjadi. Preman-preman itu tanpa pikir panjang langsung menghabisi pedangang itu dan mengambil semua barang berharga yang dibawanya.

            Dalam ajaran agama, khususnya Agama Hindu. Kejujuran dan Ahimsa merupakan dua ajaran dasar dan sangat utama untuk diterapkan. Keduanya memiliki peranan yang sama-sama penting dan mulia. Akan tetapi, jika kondisi yang dialami seperti pendeta itu, maka salah satu dari kedua ajaran itu harus dipilih dan ditentukan. Pendeta itu lebih memilih untuk mempertahankan kejujurannya karena dengan alasan dia adalah seorang pendeta suci yang dikenal akan kejujurannya yang begitu mulia. Tetapi karena kejujuran itu, dia mengorbankan nyawa orang lain yang tidak berdosa, sehingga secara tidak langsung pendeta itu telah melukan Himsa Karma. Pendeta itu lebih memilih mementingkan popularitas pribadi (egoisme) dan mengabaikan keselamatan orang lain.

            Jika dikaitkan dengan kondisi Arjuna, bisa dikatakan bahwa posisi pendeta itu hamper serupa seperti yang dialami oleh Arjuna. Tetapi jika Arjuna lebih memilih untuk mementingkan rasa hormatnya atau kewajibannya untuk menghormati Kakek, Guru, Paman, dan saudara-saudaranya dan mengabaikan kewajiban untuk menegakkan kebenaran, mungkin Arjuna akan mengalami hal yang serupa pula dengan pendeta itu. Berkat bimbingan dari Vasudewa, Arjuna pun memilih untuk melaksanakan kewajiban menegakkan kebenaran dan mengangkat senjata dan mengarahkan setiap anak panahnya untuk menembus orang-orang mulia itu. Karena dengan membela kebenaran, menegakkan kebenaran berarti kita sudah melakukan penghormatan kepada Jiwa tertinggi, sumber dari segalanya.

May 01

Calon Ketua KMHD YBV Undiksha Masa Bakti 2016/2017

Om Swastyastu.

Ini adalah salah satu kisah klasik kita.

Bukan semata-mata hanya tentang

“Siapa yang menang, dan siapa yang kalah”

“Siapa yang terpilih, dan siapa tidak terpilih”

“Siapa yang hebat, dan siapa yang tidak hebat”

“Siapa yang terbaik, dan siapa yang bukan terbaik”

Itu bukanlah prioritas bagi kami.

Ini lebih ke tentang, bagaimana kita…, iya kita.. belajar..

Bukan belajar untuk MENYAMAKAN sesuatu yang penuh perbedaan, tetapi MENYATUKAN perbedaan yang sebenarnya merupakan sebuah persamaan  bagi kita.

Berasal dari latar belakang yang berbeda, asal berbeda, Jurusan berbeda, Fakultas berbeda, sifat berbeda, dan berbagai hal lain yang berbeda. Tetapi itu adalah bukti persamaan kita, kita sama-sama belajar untuk menghargai perbedaan itu, sehingga kita bisa bersatu menjadi sebuah KELUARGA.

KELUARGA sederhana, tapi tidak sesederhana itu.

Banyak hal kedepan yang harus dihadapi, yang harus dipelajari, yang harus diperbaiki, dan harus dipertahankan.

Demi keluarga kita, keluarga yang mempertemukan kita di persatuan yang penuh perbedaan itu.

SIAPA PUN ITU, KMHD YBV UNDIKSHA TETAP KELUARGA…

JAYALAH KELUARGA KITA,

KELUARGA MAHASISWA HINDU DHARMA YOWANA BRAHMA VIDYA UNDIKSHA…

KMHD YBV UNDIKSHA…

JAYA… SEMAKIN JAYA… DAN SEMAKIN JAYA…

SATYAM EVA JAYATE…

Om Shantih, Shantih, Shantih Om.

CALON NO. URUT 1

famplet baru

CALON NO. URUT 2

12

CALON NO. URUT 3

IMG_20160501_181325

Apr 21

A.A. RAKA SIDAN (“PARAS-PAROS” MGS HUT XX KMHD YBV UNDIKSHA)

Apr 20

DADONG REROD (“PARAS-PAROS” MGS HUT XX KMHD YBV UNDIKSHA)

Feb 27

Hasil Lomba Pidarta Bali Serangkaian HUT XX KMHD YBV Undiksha

Om Swastyastu, niki hasil pacentokan Pidarta Bali Rekapan Nilai Pidarta Bali

Feb 25

Hasil Lomba Masatua Bali HUT XX KMHD YBV Undiksha

OM SWASTYASTU
Pengumuman Juara Lomba Mesatua Bali HUT KMHD YBV Undiksha, KLIK DISINI

SATYAM EVA JAYATE…

SHANTIH

Feb 23

VIDEO KALIH DASA WARSA KMHD YBV UNDIKSHA

SEMAKIN JAYA, SEMAKIN JAYA, DAN SEMAKIN JAYA.

KALIH DASA WARSA, GAGAK…!!!

SATYAM EVA JAYATE, JAYA…!!!

Feb 19

Kalih Dasa Warsa KMHD YBV Undiksha

Semakin Jaya, Semakin Jaya, dan Semakin Jaya…

12744505_445357835663599_5502532261656809470_n

Jan 24

Serangkaian HUT XX KMHD YBV Undiksha

OM SWASTYASTU…

Dalam rangka memperingati HUT XX KMHD YBV Undiksha (Kalih Dasa Warsa KMHD YBV Undiksha) kali ini, kembali akan diselenggarakan beberapa kegiatan mulai dari lomba-lomba, kegiatan kemanusiaan atau peduli sesama, kegiatan pertunjukan seni, dan kegiatan-kegiatan menarik lainnya. Serangkaian kegaitan tersebut akan mulai dilaksanakan pada bulan Februari 2016.

Dengan mengususng tema “Ajegang Budaya Bali Lan Swadarma Iraga Manyama Braya”, ngiring sareng-sareng nincapang pikayun lan parilaksana ngelestariang Seni lan Budaya Bali mangda kantun ajeg kapungkur wekas. Yadiastun antuk parilaksana lan kawikanan sane kantun tambet, nanging sane pinih utama wantah kadasarin antuh manah Ngayah…

MATUR SUKSMA, RAHAYU…

KALIH DASA WARSA, GAGAK…!!!

SATYAM EVA JAYATE, JAYA…!!!

OM SHANTIH, SHANTIH, SHANTIH OM

pamplet hut

Older posts «