Nov 24

Undangan Lomba Mapidarta Bali

Mapidarta Bali

Om Swastyastu,

serangkaian HUT XXI KMHD YBV Undiksha Tahun 2017, kami selaku panitia pelaksana kembali menyelenggarakan Lomba Mapidarta Bali Tingkat SMP se-Kabupaten Buleleng Tahun 2017. Berkenaan dengan hal tersebut, kami mengundang adik-adik siswa/i SMP se-Kabupaten Buleleng untuk ikut berpartisipasi untuk mengikuti  lomba tersebut. Untuk informasi lebih lanjut, berikut kami lampirkan susunan acara, brosur, dan form pendaftaran.

Demikian informasi ini disampaikan, atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.

Om Shantih, Shantih, Shantih, Om

Selikur Warsa KMHD! GAGAK!!!

Satyam Eva Jayate! Jaya!!!

1. SUSUNAN ACARA

2. Brosur

3. Formulir Pendaftaran

4. Surat Undangan

Nov 21

Undangan Lomba Masatua Bali

Masatua Bali

Om Swastyastu,

serangkaian HUT XXI KMHD YBV Undiksha Tahun 2017, kami selaku panitia pelaksana kembali akan menyelenggarakan Lomba Masatua Bali Tingkat SD se-Kabupaten Buleleng Tahun 2017. Berkenaan dengan hal tersebut kami mengundang adik-adik siswa/siswi SD se-Kabupaten Buleleng untuk ikut berpartisipasi sebagai peserta lomba dalam perlombaan tersebut. Untuk informasi lebih lanjut, berikut kami sertakan susunan acara, brosur, dan form pendaftaran.

Demikian informasi ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Satyam Eva Jayate ! Jaya!!!

Selikur Warsa KMHD! GAGAK!!!

1. SUSUNAN ACARA SATUA BALI

2. BROSUR

3. Formulir Pendaftaran

4. Surat undangan

Nov 20

KESEMPURNAAN MAHARESI KRSNA-DVAIPAYANA VYASA

KESEMPURNAAN MAHARESI KRSNA-DVAIPAYANA VYASA

Oleh: Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa

(Bali Post: Minggu Wage, 20 November 2016) 240px-Vyasa_dictating_Mahabharata

“Hana sira maharsi, tan hana kapinggingnira, kinatwangan ing triloka, rumantasaken petengning ajnananing sarwabhawa, anak sang Satyavati, patemwan lawan Bhagavan Parasara, prasuta ri tengahnikang Krsna-dvipa, Bhagavan Byasa ngaranira, sira ta sembahen, kamnan inghulun mujarakena saraning gawenira aji”

            Tersebutlah seorang Maharesi, tidak ada sesuatu pun yang tidak beliau ketahui, dipuja-puja oleh Triloka, mempunyai kemampuan untuk melenyapkan kegelapan pikiran seluruh mahluk. Beliau adalah putra dewi Satyawati, dari pertemuannya dengan Bhagavan Parasara, yang terlahirkan di tengah-tengah (pulau kecil) Krsna-dvipa. Nama beliau adalah Bhagavan Byasa, yang sangat patut disembah, sebelum hamba mulai menyampaikan sari-sari ajaran suci karya beliau.

            Kebanggaan tidak terbantahkan bahwa kita mempunyai seorang Maharesi yang mahaterpelajar, menguasai seluruh ajaran Veda, beliau adalah Maharesi Krsnadvaipayana Veda Vyasa. Terdapat beberapa pendapat yang mengatakan perihal adanya banyak nama Vyasa (29 Vyasa termasuk Vyasa Parasaraputra). Akan tetapi, Vyasa yang disebutkan di sisni sebagai yang “mengurai” Veda adalah Vyasa, putra dari Matsyakanya Dewi Satyawati dengan Maharesi Parasara, yang dilahirkan di sebuah pulau kecil “krsnaa” di tengah sungai Suci Yamuna. Maharesi Parasara dengan menggunakan kesaktiannya membuat pulau kecil itu tetutupi oleh awan gelap. Oleh karena itulah pulau tersebut dinamakan Krsna-dvipa. Krsna berarti hitam atau gelap, dan dvipa berarti pulau. Dengan demikian tidak akan ada kekacauan tafsir mengenai Vyasa yang mana yang dimaksudkan di dalam penulisan Mahabharata ini, sebab sudah sangat jelas disampaikan melalui “anak sang Satyawati, patemwan lawan Bhagavan Parasara, prasuta ri tengahnikang Krsna-dvipa, Bhagavan Vyasa ngaranira”, bahwa Vyasa yang dimaksudkan di sini adalah putra Maharesi Parasara dengan Dewi Satyawati yang mempunyai putra dengan kemampuan agama spiritual mahatinggi bernama Sukadeva, dari istrinnya bernama Pinjala, putri Maharesi Jabali.

            Menariknya, kitab suci Sarasamuccaya menyebutkan perihal keagungan, keutamaan atau kemampuan Maharesi Vyasa dengan sangat menarik, sebagai berikut:

            Tan hana kapingging nira: bahwa tidak ada sesuatu pun yang tidak diketahui oleh beliau. Kalimat ini mempertegas level kemaharesian yang sudah dicapai oleh beliau. Tan hana kapingging nira, tidak ada sesuatu apa pun di dunia ini yang lepas dari tangkapan pengetahuan beliau. Kalimat ini sangat sesuai dengan definisi kata Resi (rsi) itu sendiri, yaitu beliau yang melihat mantram (mantra drstarah), beliau yang melihat segala hal-hal yang spiritual, beliau yang melihat kebenaran secara menyeluruh, itulah yang dinamakan rsi (Resi) atau Maharesi, (perihal rsi, maharesi dan lain-lain bisa dilihat pada buku Studi Ringkas Catur Veda). Seorang Maharesi di dalam ajaran Dharma Sanatana adalah beliau yang sudah mencapai kesempurnaan mahasempurna, yang sudah melihat kebenaran secara gambling. Orang suci seperti itu dinamakan Trikala-jnani, yaitu beliau yang mengetahui masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Orang-orang suci seperti itulah yang menulis kitab-kitab suci Veda, dan ornag-orang suci seperti itu sudah sangat jauh dari sentuhan kebohongan. Oleh karena itulah, orang-orang suci seperti beliau-beliau itulah yang berhak dan layak menulis ketab-kitab suci, akan memberikan penerangan sangat jelas dan pasti kepada seluruh dunia, begaikan sinar terang benderang matahari yang menghalau kegelapan malam, menyebabkan segala sesuatu menjadi sangat jelas terang benderang, kecuali jika orang yang membaca kitab suci itu masih belum siap meninggalkan rasa iri hati, dengki, amarah, dan lain-lain, yang menyebabkan kitab suci itu akan “diterjemahkan” ke dalam kalimat-kalimat kecil dan dimanfaatkan untuk pencapaian kepentingan-kepentingan duniawi.

            Kinatwanganing ing tri loka: beliau dipuja-puja oleh bukan hanya para penduduk bumi ini tetapi juga oleh seluruh penduduk Triloka, termasuk para dewa/malaikat. Jika para pengagung Maharesi Krsna-dvaipayana Vyasa juga termasuk para resi, muni, yogi dan bahkan para dewa, maka dapat dibayangkan siapa dan bagaimana Maharesi Vyasa tersebut. Dan… itulah orang suci “Nabi” dari agama Sanatana, agama kekal abadi. Kebanggaan “mengenal” dan mendapat karunia “tetesan amerta” dari kitab-kitab suci Veda yang ditulis oleh beliau, sepantasnya dimiliki oleh insan manusia di atas muka bumi ini, baik yang sudah lahir dahulu, oleh kita-kita yang lahir pada zaman sekarang ini, dan termasuk oleh mereka yang akan hadir di dunia ini pada masa yang akan datang.

            Sebagaimana Omkara adalah avatara Tuhan dalam bentuk aksara suci, dalam bentuk kitab suci adalah Bhagavad-Gita, dalam bentuk mantram adalah Gayatri, demikian pula Maharesi Vyasa adalah avatara Tuhan Yang Maha Esa dalam rupa seorang Maharesi. Barangkali itulah yang menyebabkan Ganesha berkenan menjadi “sekretaris”-nya, sampai mengorbankan satu taringnya yang dipergunakan untuk menuliskan amerta Veda yang disampaikan oleh Maharesi Vyasa.

            Bagi mereka yang ingin menyampaikan sembah sujudnya kepada Maharesi Vyasa, dapat melakukan pemujaan setiap pagi mengawali sembahyangnya, atau sebelum memulai membaca kitab suci dengan doa pujian sebagai berikut: Namos’tu tevyasa visala budhir, phullaravindayata patra-netram, yena tvaya bharata-taila purnah, prajvalito-jnana-mayah pradipah.

            Rumentasaken petengning ajnananing sarva-bhava: Maharesi Vyasa juga memiliki kemampuan untuk menghalau kegelapan atau kebodohan seluruh mahluk hidup. Kata sarva-bhava menunjukkan seluruh mahluk hidup, dan bukan hanya manusia (lihat cerita “Sang Ulat dan Maharesi Vyasa”). Kadang, pada teks lain penulisan petengning ajnananing tertulis petengning jnananing. Dalam petengning ajnananing dimaksudkan penegasan kata kegelapan/kebodohan, dan hal ini merupakan hal yang sangat biasa dalam penulisan sastra. Namun, penulisan petengning jnananing juga tidak bisa disalahkan begitu saja, sebab ia berarti kegelapan pengetahuan, yaitu kebodohan. Rumantasaken, bahwa beliau mampu menghilangkan, petengning jnananing, kegelapan pengetahuan alias kebodohan. Namun, jika kita kembali kepada teks, maka kemungkinan besar teks sumber adalah petengning ajnananing.

            Sering kita melihat orang disembah-sembah di dunia ini. Memang, kecenderungan orang-orang yang sifat rajas-nya masih cukup dominan adalah suka memuji atau menyembah manusia terkenal atau sakti. Ada yang memuja bintang film Hollywood atau Bollywood, ada yang memuja pemain sepak bola, pembalap, atau kalau di India publik sangat mudah mengagung-agungkan dan memuja bintang olah raga kriket, bahkan memasang foto pemain kriket di altar pemujaan, lalu memujanya. Demikian pula di belahan lain dunia, pemujaan manusia dilakukan dalam bentuk lain. Tidak ada salahnya senang pada ketrkenalan atau kesaktian, namun, orang hendaknya belajar menempatkannya dengan baik dan tepat sasaran.

            Dalam bait di atas diberikan persyaratan yang indah perihal siapa yang patut “disembah”. Tasmainmah, sembah sujud kepada beliau, atau dalam Jawa Kuna-nya sira ta sembahen, artinya beliaulah yang hendaknya disembah. Beliau siapakah yang dimaksuh? Apakah beliau-beliau yag mampu memberikan segala kehebatan duniawi seperti uang, rumah, pekerjaan, jabatan? Ataukah mereka yang mampu memberikan keris sakti, batu-batu berharga, cincin atau jimat-jimat yang berbau kesaktian?

Nov 14

LCC AH TINGKAT SMA/SMK SE-BALI TAHUN 2017

Surat SMA

Om Swastyastu.

Berikut adalah kelengkapan informasi terkait dengan pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat Agama Hindu (LCC) Tingkat SMA/SMK Se-Bali Tahun 2017. (Surat Undangan, Brosur, Formulir Pendaftaran, dan Susunan Acara).

Silahkan Download pada link di bawah.

 

BROSUR LCC SMA 2017

SUSUNAN ACARA BABAK PENYISIHAN SMA

FORMULIR PENDAFTARAN SMA
Ngiring Sarengin Nggih :)

Matur Suksma

Satyam Eva Jayate…

Om Shantih, Shantih, Shantih OM

Nov 14

LCC AH TINGKAT SMP SE-KABUPATEN BULELENG TAHUN 2017

Surat SMP

Om Swastyastu.

Berikut adalah kelengkapan informasi terkait dengan pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat Agama Hindu (LCC) Tingkat SMP Se-Kabupaten Buleleng Tahun 2017. (Surat Undangan, Brosur, Formulir Pendaftaran, dan Susunan Acara).

Silahkan Download pada link di bawah.

 

BROSUR LCC SMP 2017

FORMULIR PENDAFTARAN SMP

SUSUNAN ACARA BABAK PENYISIHAN SMP

 

Ngiring Sarengin Nggih :)

Matur Suksma

Satyam Eva Jayate…

Om Shantih, Shantih, Shantih OM

Nov 06

PENYEBAB KEDUKAAN YANG PERLU DIHINDARI

“PENYEBAB KEDUKAAN YANG PERLU DIHINDARI”

Oleh: Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa

206050_10150734110560118_262083565117_19709451_6462745_n

            “Dengan mengajarkan murid yang bodoh, dengan memelihara istri yang jahat dan bergaul terlalu erat dengan orang yang selalu dalam kedukaan, seorang pendeta bijaksana pun akan mengalami penderitaan”.

            Ketiga hal tersebut di atas, yaitu: mengajarkan murid bodoh, memelihara istri jahat, dan bergaul dekat dengan orang yang selalu dalam kedukaan. Diberikan penggarisbawahan disini Karena dengan sangat mudah memberikan kedukaan kepada semua orang. Orang bijaksana selain menghabiskan waktunya dalam pelayanan demi kemuliaan yang lain, dia juga perlu memperhatikan ketenangan batinnya setiap hari.

            Murid yang bodoh yang 12 tahun tetap tinggal di kelas yang sama tentu saja akan membuat gurunya bersedih hati. Guru tersebut akan merasa sangat berdosa karena tidak mampu membina anak didiknya. Hal itu akan menyakitkan hati guru tersebut. Tentu saja guru yang baik yang memang sangat memperhatikan ke-guru-annya. Sangat berbeda dengan guru yang sekedar menginginkan ke-guru-an tanpa memberikan perhatiannya pada tanggungjawabnya sebagai seorang guru. Muridnya tamat sekolah ataukah tidak, guru tersebut tidak peduli Karena tujuan dia hanya pada gaji tiap bulan yang dia perlukan.

            Dalam tradisi pengajaran zaman dahulu, seorang guru akan sangat selektif menerima murid. Bahkan banyak diantaranya tidak menerima murid baik pun, atau sama sekali tidak menerima murid. Menjadi seorang guru bukanlah suatu hal yang remeh. Ia sangat menentukan masa depan dunia. Paling tidak, ia sangat menentukan kelangsungan “wajah” semua keluarga kecil yang nantinya akan dibangun oleh muridnya. Keluarga kecil sang murid akan menjadi suri teladan bagi lingkungannya dan memberikan kecerahan “wajah” lingkungan ataukah dia sebaliknya, hanya akan membuat “suram” kecemerlangan keluarga dan lingkungannya? Nah yang menentukan hal itu adalah guru di sekolah atau para dosen di universitas yang membentuk anak-anak tersebut. Secara spiritual, guru bahkan disebutkan mengambil seluruh dosa dan karma buruk yang dilakukan oleh muridnya.

            Jika murid memberikan kedukaan pada guru maka bukan hanya di sekolah atau di kampus ia mengalami kedukaan, melainkan juga akan terganggu sampai ke rumahnya, bahkan akan mempengaruhi kedamaian suasana rumah tangganya. Oleh Karena itu, seorang guru sebaiknya menghindari menerima murid seperti yang bodoh dan ngawur yang hanya akan memberikan kedukaan kepada gurunya. Jika tetap menginginkan kemajuan muridnya, sebaiknya anak itu diberikan asistennya mendidik, ia yang bisa lebih sabar dalam mendidik murid, yang juga telah mengalami 9 tahun mendidik murid seperti itu di kelas yang sama.

            Selain kekurangan kecerdasan, murid bodoh juga dimaksudkan adalah murid yang “terlalu rajin menasihati” gurunya. Murid bodoh juga dimaksudkan dia yang tidak pernah melaksanakan ajaran-ajaran gurunya, melaikan ia asyik dengan dalil-dalil pribadinya. Ia hanya akan menerima jaran guru kalau sesuai dengan isi kepalanya dan/atau ajaran guru setuju dengan pendapatnya dan kalau berisi sanjungan terhadap dirinya. Murid yang bodoh juga dimaksudkan sebagai dia yang tidak mendisiplinkan dirinya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan spiritual. Murid bodoh adalah murid yang menerima duru hanya kalau gurunya memuji dirinya. Ia akan pergi dari guru kalau gurunya memarahinya. Murid seperti itu menganggap seorang guru adalah guru jika nasihat-nasihat selalu cocok dengan pikiran dan kecerdasannya. Begitu gurunya berbicara yang tidak cocok dengan jalan pikiran dan kesadarannya, maka murid akan memberontak, meronta dan mulai meragukan ketulusan gurunya untuk membimbing dirinya. Murid seperti itu akan segera meniup balon mainan keakuannya untuk segera pecah meledak mengecewakan dirinya sendiri dan juga memekakkan telinga orang-orang lain yang berada di sekitarnya. Berbuat kesalahan kepada guru (Guru aparadha) akan menjadi alat penghancur bagi diri murid itu sendir dan juga orang-orang lain.

            Murid hendaknya menempatkan dirinya di jalur murid dan bukan di jalur penasihat guru. Sebagaimana mobil menempatkan dirinya di jalur aman, yaitu di jalurnya sendiri, maka dengan demikian orang akan dapat menempuh perjalanannya dengan baik, selamat dan tanpa halangan apapun yang berarti. Tetapi begitu ia mengikuti jejak pelanggat lainnya, yaitu tiba-tiba berbelok mengambil jalur lain, maka pastilah ia harus berurusan dengan Polantas sebagai penegak hukum, atau malah ia akan mencelakai dirinya sendiri sebagia akibat dari kecerobohannya.

            Murid yang ajeg dan mantap menempatkan dirinya di jalur yang benar, yaitu di jalur “sisya”, maka dia pasti akan berada di dalam jalan keselamatan dan jalan kebahagiaan. Karena jalur “sisya” yang ditempuh adalah jalur yang diterangi sinar suci ilmu pengetahuan spiritual, yaitu jalur “sisya” (murid yang berada di dalam guru sejati, Tuhan Yang Maha Esa). Murid yang baik akan memberikan perhatiannya pada “Guru Sejati” dan tidak pada ke-manusia-an guru pembimbingnya yang telah berkenan datang menurunkan ajaran-ajaran kepadanya.

            Itulah hal prinsip yang diperlakukan oleh seorang murid, yaitu memantapkan dirinya untuk tetap berada di jalur “sisya” yang “susisya” Karena ia adalah jalur “keselamatan pengantar ke tujuan”. Barangkali akan merupakan pengetahuan baru bagi kebanyakan dari kita bahwasanya nilai seorang murid adalah pada ketulusannya mengikuti prinsip “Guru Anukulata”. Artinya, seorang murid hendaknya serratus persen mengikuti kehendak, perintah, serta segala ajaran mulia dari gurunya. Dengan demikian, ia tidak akan melihat hal atau ajaran apapun yang lain selain guru anukulata, yaitu patuh sepenuhnya kepada seorang guru yang sepenuhnya diberkahi oleh Guru Sejati/Tuhan Yang Maha Esa. Guru anukulata seperti tidak akan pernah kekurangan apapun yang diperlukan oleh murid-muridnya. Kemajuan duniawi dan juga kemjuan spiritual, semua akan didapatkan oleh seorang murid yang anukulata dengan gurunya, yang 100% mengikuti gurunya. Hanya murid seperti itulah yang diidamkan oleh seorang guru, Karena guru akan mudah membimbing, mengarahkan, membina, dan memajukan dia di dalam segala bentuk, yang pada akhirnya menghantarkan dia pada keberhasilan pencapaian tujuan spiritualnya. Tetapi jika ada seorang murid mulai menilai gurunya, maka ia akan kehilangan perhatian “khusus” dan “berkah khusus” dari gurunya sehingga ia akan ter”vancita” dari pelajaran-pelajaran rahasia sang Guru. Mungkin saja dia akan mendapatkan “entertainment” menyenangkan hatinya, tetapi hatinya akan menjadi kering, tanpa rasa, tanpa kebahagiaan. Hatinya yang adalah taman keindahan spiritual akan menjadi kering oleh ketidakberadaan vinoda-bhava dan prema bhakti. Barangkali ia tetap bisa meneruskan sembahyang dan meditasi sehari-harinya, tetapi “rasa spiritual” yang seterusnya menjadi miliknya dan menjadi isi dari setiap sel tubuhnya. Semua itu ia tidak akan dapatkan, hanya Karena ia telah menilai gurunya secara berlebihan.

            Orang bijaksana juga perlu berhati-hati dalam membimbing istrinya karena ia adalah perpanjangan tangan guru. Istri guru adalah guru itu sendiri, tentu saja jika ia berada di dalam naungan dan kepatuhan terhadap suaminya. Ia akan menjadi ibu dari seluruh murid suaminya. Seorang istri yang menerima semua murid suaminya sebagai anak-anaknya sendiri adalah istri yang memang guru itu sendiri. Ia bahkan mempunyai kemampuan untuk mengangkat dan menurunkan seorang murid. Kekuatan suami akan mengalit melalui dirinya demi kemajuan sang murid. Tentu saja, ketika istri seorang guru berubah menjadi “monster” menakutkan bagi setiap murid, maka ia bukan hanya tidak mampu menjadi “perpanjangan tangan” bagi suaminya (Guru) melainkan ia juga akan memberikan kesedihan bagi suaminnya (Guru).

            Dalam keadaan seperti itu, guru tersebut akan mengalami kesulitan untuk membimbing dan mengangkat murid-muridnya. Oleh Karena itu, seorang bijaksana akan sangat berhati-hati pula memilih calon istri karena ia sangat menentukan kemajuan spiritual dirinya dan juga kemajuan murid-muridnya. Demikian pula dengan pergaulan yang terlalu dekat dengan orang yang selalu berada dalam kedukaan, pendeta sekalipun akan mendapat kedukaan. Orang bijaksana mengutamakan menyelamatkan diri sendiri, memantapkan diri sendiri terlebih dahulu, lalu berulah mencoba menyelamatkan orang lain. Jika tidak, ia akan menderita lebih parah dari orang yang hendak dibantunya.

Oct 14

PERSEMBAHAN TERINDAH

PERSEMBAHAN TERINDAH

Oleh: Gede Prama

14739346441737698028

              Di semua agama ada manusia yang rindu untuk menyembah. Ia serangkaian kerinduan jiwa untuk segera menemukan rumah. Sayangnya, tidak banyak manusia di zaman ini yang jiwanya menemukan rumah indah. Kebanyakan manusia bertumbuh jiwanya dari rasa resah menuju rasa gelisah. Jangankan kemiskinan, bahkan kekayaan pun menimbulkan kegelisahan.

              Untuk mengobati keresahan dan kegelisahan seperti inilah, Arjuna dengan berat hati bertanya kepada Shri Krisna sebagai perwujudan Tuhan. Tatkala dialognya memasuki wilayah-wilayah persembahan, dengan tersenyum indah Shri Krisna menjawab: “asal seseorang melakukannya secara tulus dan halus, maka persembahan air dan bunga saja sudah lebih dari cukup”.

              Jawaban ini menimbulkan pertanyaan berikutnya, kenapa harus air dan bunga? Kenapa bukan daun, rumput, buah, daging, dll? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Selama ribuan tahun manusia sudah banyak yang berspekulasi tentang makna di balik air dan bunga. Banyak jawaban yang sudah muncul ke permukaan.

              Dan di kedalaman meditasi pernah terdengar, air adalah simbol dari pikiran yang mengalir. Bunga adalah simbol dari hati yang indah. Seperti kita semua sudah tahu, air yang mengalir mudah sekali menimbulkan rasa damai di dalam. Ia seperti sedang berpesan, belajar untuk selalu mengalir dalam kehidupan.

              Sederhananya, berusaha agar kehidupan lebih baik tentu saja boleh, berdoa juga boleh, tapi apa pun berkah yang diberikan kehidupan, belajar untuk mendekapnya dengan rasa syukur dan rasa terimakasih yang mendalam. Siapa saja yang mendekap setiap berkah kekinian dengan rasa syukur yang mendalam, hidupnya berubah menjadi sungai kedamaian.

              Sebagaimana sungai sesungguhnya yang mengalir menuju samudra, pikiran yang mengalir juga serupa. Setiap pikiran yang sudah mengalir sempurna dalam waktu yang lama akan berujung pada sebuah samudra penuh berkah yang bernama hati yang indah. Perpaduan unik antara pikiran yang mengalir dengan hati yang indah inilah yang membuat seorang penyembah bisa berjumpa puncak Satchittananda (keindahan yang tidak terjelaskan).

              Pekerjaan rumahnya kemudian, bagaimana membuat pikiran agar senatiasa mengalir? Di Tantra ada pengandaian yang indah. Pikiran menderita mirip dengan salju yang kaku dan beku. Ia tidak saja gagal mengalir, tapi juga rawan bertabrakan dengan pihak lain. Dan ajaran-ajaran suci serupa cahaya matahari.

              Sebagian salju memang bisa dibuat mencair oleh cahaya matahari. Namun, ada salju yang terlalu kaku dan beku untuk bisa dibikin cair oleh sinar matahari. Penderitaan manusia di zaman ini serupa. Banyak sekali ajaran suci yang sudah dibagikan di muka bumi selama ribuan tahun. Namun penderitaan manusia tidak menunjukkan tanda-tanda menurun.

              Di titik seperti inilah para pencari memerlukan kaca pembesar agar salju penderitaan cepat mencair. Dan diantara berbagai pilihan yang tersedia, bakti kepada Guru sejati adalah cara yang paling sering disebut di jalan Tantra. Jetsun Milarepa di Tibet adalah yogi tingkat tinggi yang mengikuti jalan ini. Penderitaannya hebat sekali. Dari kehilangan harta orang tua, dibikin nyaris mati oleh kemiskinan, sampai melakukan kesalahan berbahaya berupa membunuh sejumlah manusia. Tapi baktinya yang sempurna kepada Gurunya Marpa membuat salju penderitaan Milarepa mencair.

              Lebih dari sekadar keluar dari salju beku penderitaan, Jetsun Milarepa juga mengalami pencapaian spiritual yang sangat-sangat jarang bisa dicapai manusia biasa. Kehidupan Milarepa menjadi cahaya yang sangat bersinar menerangi banyak sekali pencari cahaya. Kisahnya terjadi di abad 11, tapi sampai saat ini cahaya Milarepa masih memancar. Sejujurnya, inilah bentuk persembahan yang terindah. Seseorang tidak saja menyembah untuk menyelamatkan jiwa, tapi juga menyembah untuk bisa berbagi cahaya kepada dunia.

Oct 13

LILIN BERJALAN

LILIN BERJALAN

Oleh: Gede Prama

14691384711717104591               “Kegelapan yang berjalan”, itu salah satu ciri sahabat yang resah dan gelisah. Logika tidak memberikan jawaban memuaskan, rasa juga serupa. Saran orang lain meragukan, pendapat keluarga mencurigakan. Orang-orang dekat terlihat tidak bersahabat, orang-orang jauh apa lagi. Akibatnya mudah ditebak, semua arah miskin cahaya. Semua langkah menuju arah yang berbahaya.

              Dan mengacu pada ramalan WHO (organisasi kesehatan dunia) yang meramalkan kalau mulai tahun 2020 sakit mental akan lebih berbahaya dibandingkan sakit fisik, kuantitas dan kualitas manusia yang di dalamnya gelap tampaknya akan terus bertambah. Ada yang menyebut ini beban, ada juga yang menyebut ini kesempatan.

              Di jalan-jalan cahaya, hadirnya kegelapan di sana-sini adalah bel kosmik yang mengundang sebanyak mungkin manusia untuk menjadi pembawa cahaya. Dengan kata lain, ini adalah kesempatan untuk memancarkan cahaya. Bukannya bel kematian bagi pembawa-pembawa cahaya.

              Mengacu pada cerita banyak sahabat yang membuka rahasia dirinya di sesi-sesi meditasi, salah satu ciri jiwa yang gelap di dalamnya adalah terlalu sedikit dipuji sejak kecil. Sebaliknya malah terlalu sering dihakimi dan dimaki. Penghakiman keluarga dan lingkungan inilah yang membuat tidak sedikit manusia yang mengunci rapat-rapat ruang jiwanya di dalam sehingga terus menerus gelap.

              Itu sebabnya, bisa dipahami kalau pemikir humanis bernama Dale Carnegie pernah mewariskan pesan, pujian bukanlah perkara kecil. Asal dilakukan secara tulus dan halus, dalam kuantitas dan kualitas yang pas, pujian bisa menghadirkan cahaya indah ke ruang gelap orang-orang. Sering terjadi, pujian kecil yang pas dan ringkas bisa membuat seseorang bahagia sepanjang hari.

              Terinspirasi dari sini, jangan pernah pelit dengan pujian. Pujian tidak saja gratis, tapi juga bisa menyelamatkan banyak sekali jiwa yang sedang gelap. Pekerjaan rumahnya kemudian, bagaimana melatih diri agar bisa memberikan pujian secara tepat sekaligus menyentuh.

 

Oct 12

LENGKUNGAN YANG MENYEMBUHKAN

LENGKUNGAN YANG MENYEMBUHKAN

Oleh: Gede Prama

 1440720955608190664

              Dalam sebuah penerbangan menuju Bali, seorang wisatawan yang sudah berkunjung ke Bali berkali-kali ditanya sebab kenapa ia suka mengunjungi pulau Bali. Dengan spontan wisatawan ini menjawab: “yang khas dari pulau ini adalah senyuman orang-orangnya”.

              Dengan kata lain, senyuman bukanlah persoalan sederhana. Ia bermakna jauh lebih dalam dari sekadar bibir yang melengkung. Ia yang kerap tersenyum mengerti, awalnya senyuman memang sekadar sapaan pada orang-orang untuk menunjukkan kalau kita bersahabat.

              Begitu dilakukan berkali-kali, lebih-lebih dengan cara yang lebih dalam lagi, senyuman berubah wajah menjadi cahaya penerimaan yang dipancarkan ke dalam diri. Terutama karena senyuman adalah sebentuk dekapan lembut seseorang pada jiwa yang bersemayam di dalam.

              Setiap sahabat yang meditasinya sudah mendalam, terbiasa tersenyum pada setiap berkah kekinian – entah ia menjengkelkan atau menyenangkan – suatu hari akan mengerti, ternyata senyuman adalah bunga indah yang kita bagikan kepada dunia.

              Ringkasnya, senyuman adalah jembatan yang menghubungkan seseorang baik pada kehidupan di luar maupun di dalam. Di Barat ada cerita tentang Norman Cousins yang pernah divonis terkena penyakit sangat serius yang penuh komplikasi. Kemudian ia menyewa motel kecil serta menghabiskan waktu lama hanya menonton film-film yang lucu dan mengundang senyuman.

              Untuk membuat ceritanya ringkas, beberapa waktu kemudian Norman Cousins sembuh dari penyakit rumit ini. Pelajaran yang bisa ditarik dari sini, dan ini juga dibenarkan oleh sejumlah hasil penelitian, ternyata tawa dan senyuman meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Untuk kemudian membantu tubuh bisa menyembuhkan dirinya.

              Terinspirasi dari sini, layak direnungkan untuk tekun melatih diri agar selalu tersenyum. Di dunia spiritual mendalam khususnya, ada banyak pencari yang sangat mengagumi senyuman sebagai jalan spiritual.

              Perhatikan salah satu puisi Rumi: “hidup serupa tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti. Dan siapa pun tamu yang datang. Jangan pernah lelah untuk tersenyum”. Simpelnya, hidup memang sebuah persinggahan sementara. Kadang dikunjungi kesedihan kadang dikunjungi kesenangan. Dan tugas seorang pencari yang sudah dalam hanya tersenyum.

              Lebih-lebih di dunia meditasi. Di tingkat kesempurnaan, berlatih meditasi adalah berlatih tersenyum. Jika Anda bisa tersenyum pada kesenangan, itu artinya Anda jiwa yang biasa. Bila Anda bisa tersenyum pada kesedihan, itu artinya Anda jiwa yang bercahaya.

              Dalam bahasa yang sederhana namun dalam, tatkala seseorang tersenyum, ia tidak saja sedang berbagi cahaya pada orang lain, tapi juga sedang membawahi lilin penerang pada kegelapan yang ada di dalam diri. Inilah yang disebut dengan lengkungan yang menyembuhkan.

Oct 11

MELUKIS PELANGI

MELUKIS PELANGI

Oleh: Gede Prama

pelangi

              Di zaman mahasiswa dulu, ketika kantong sedang tipis-tipisnya ada yang memberitahu kalau tersedia rumah kost 5 kamar dengan tarif termurah. Ternyata setelah mau dilihat, pembawa berita mengatakan kalau 5 kamar isinya kamar mandi semua.

              Bila dalam dunia canda saja tidak ada yang seragam, apa lagi dalam rumah sesungguhnya. Serupa tim sepak bola, hidup juga kaya warna. Meminjam bahasa puitik Kahlil Gibran, tatkala manusia bercengkerama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di tempat tidur. Kita serumah dengan kebahagiaan dan kesedihan. Keserakahan hanya mau kebahagiaan, kemudian mengenyahkan kesedihan, tidak saja melanggar hukum alam, juga memperpanjang daftar penderitaan.

              Dalam bayangan gelap keserakahan, tidak saja kesedihan menjadi awal penderitaan, kebahagiaan pun menjadi bahan penderitaan. Terutama karena selalu dibayangi ketakutan kehilangan kebahagiaan. Mau ditakuti atau tidak, kebahagiaan tidak kekal. Seperti terbitnya matahari, sekeras apa pun manusia menangis, bila waktunya terbit ia akan terbit.

              Sadar akan hukum besi perubahan, orang bijaksana melatih diri tidak serakah akan kebahagiaan, tidak kecewa pada kesedihan. Jabatan naik, rezeki membaik tentu saja layak disyukuri. Namun jangan pernah lupa, ia akan berlalu. Diserang penyakit, uang selalu kurang, tentu saja mengundang keprihatinan. Namun jangan lupa, tidak saja dalam kebahagiaan tersedia bimbingan, dalam kesedihan juga ada bimbingan. Penderitaan adalah petunjuk jalan untuk pergi ke tempat bernama rendah hati. Perhatikan manusia-manusia agung, semuanya berjumpa kerendahatian.

              Yang sudah sampai di sini berpesan, temukan kebahagiaan yang tersembunyi di balik penderitaan. Namun ini lebih mudah ditemukan oleh orang yang trampil melukis pelangi. Indah karena dibentuk oleh berbagai warna yang berbeda: kebahagiaan-kesedihan, sukses-gagal, dipuji-dicaci. Dan modal terpenting yang mempermudah tugas ini bernama compassion (kasih sayang).

              Perhatikan pendapat seorang guru meditasi: “Like iron transformed into gold, the alchemy of compassion transforms samsaric actions into happiness”. Seperti petapa yang bisa merubah besi menjadi emas, kasih sayang bisa merubah penderitaan menjadi keagungan.

              Memancarkan kasih sayang ketika bahagia, semua orang bisa. Namun berbagi kebahagiaan ketika dicaci, hanya manusia mengagumkan yang bisa melaksanakannya.

              Bermodalkan kemampuan melukis pelangi di dalam diri, kemudian baru mungkin lahir kecermatan melukis pelangi di luar diri. Jangankan perbedaan antarnegara, dalam keluarga kecil pun perbedaan ada. Bila isterinya cerewet biasanya suaminya pendiam. Atasan yang pemarah merindukan asisten yang penyabar. Pemilik yang mata duitan memerlukan pengimbang berupa pemimpin peduli.

              Ini tidak saja hukum alam dan bahan-bahan keberhasilan, namun juga jalan-jalan kesempurnaan. Perhatikan alam sebagai wakil kesempurnaan. Pertama, ia senantiasa berubah. Kedua, alam melukis keindahan melalui berlimpah perbedaan dari laut, gunung, sungai, danau. Ketiga, ia menjadi sumber berkah sekaligus musibah.

              Kehidupan juga serupa. Ia tidak kekal, dibentuk hal-hal berbeda, sekaligus berisi berkah dan musibah. Dan di tangan-tangan yang trampil melukis pelangi, semuanya dibingkai menjadi lukisan menawan. Dalam bahasa seorang puteri yang mencintai papanya karena rajin berbagi kasih sayang ke mana-mana: “There must be some one who painting the rainbow daddy!”. Mesti ada yang melukis pelangi. Biar perbedaan tidak selalu bermuara pada pertengkaran.

              Cermati pesan Lama Yeshe: “Purification requires a skillful combination of wisdom and compassion”. Penyembuhan, pemurnian lebih mungkin dilakukan oleh mereka yang trampil merangkai kebijaksanaan dan kasih sayang. Kebijaksanaan serupa langit luas yang memayungi semuanya. Kasih sayang seperti bumi yang selalu melayani.

Older posts «