Sep 25

SEPASANG SAYAP JIWA

SEPASANG SAYAP JIWA

Oleh: Gede Prama

1470940420387349258

 

“Kegembiraan membuat manusia menikmati sang musik, tapi kesedihan membuat jiwa mengerti makna sang lirik”

Nyaris semua orang lari dari kesedihan. Makanan, minuman, hiburan adalah sebagian tempat lari dalam hal ini. Dan sekuat apa pun manusia lari dari kesedihan, kesedihan akan datang lagi dan lagi. Jangankan saat tidak ada nabi, bahkan saat lahir nabi pun kesedihan hadir sebagai tamu kehidupan.

Itu sebabnya kenapa jiwa-jiwa bercahaya belajar untuk tidak lari dari kesedihan. Penyair besar Kahlil Gibran adalah sebuah contoh legendaris. Mahakaryanya yang berjudul “Sang Nabi” lahir saat beliau mengalami kesedihan mendalam. Mahatma Gandhi meninggalkan karirnya sebagai pengacara cemerlang di Afrika Selatan, pulang ke India juga dibimbing oleh kesedihan.

Di tengah bimbingan sejarah seperti ini, seorang sahabat Buddhist juga sedih mendalam tatkala Vihara dihancurkan orang. Lebih-lebih salah satu Vihara yang hancur bernama Vihara Avalokiteshvara. Sebuah nama yang ia ulang-ulang setiap hari selama bertahun-tahun di alam doa.

Namun bukan jiwa bercahaya namanya kalau kesedihan kemudian membuat ia menyulut kekerasan. Sebaliknya, perasaan sedih di dalam diizinkan untuk membimbing jiwa agar menyelam semakin dalam. Tidak perlu menyalahkan orang, tidak perlu menyalahkan diri sendiri, cukup tersenyum secara mendalam pada setiap wajah kesedihan.

Ada wajah ketidakberdayaan, ada wajah keraguan, ada wajah keikhlasan, ada wajah kegelapan, ada wajah kasih sayang, ada wajah kebodohan. Apa pun wajah kesedihan yang datang, semuanya didekap dengan senyuman yang sama. Persis seperti seorang ibu mendekap putra tunggalnya.

Awalnya ada yang melawan di dalam. Kemudian terbuka rahasianya, ternyata yang melawan adalah keakuan. Setelah disadari secara penuh dan utuh, keakuan menghilang. Ia digantikan dengan jiwa-jiwa menderita yang memerlukan pertolongan. Orang-orang yang menghancurkan Vihara khususnya bukan manusia negatif, melainkan malaikat yang ada di sini untuk memurnikan karma buruk, sekaligus menyempurnakan kesabaran.

Di lapisan yang lebih dalam terlihat, ternyata kegelapan juga membawa kebaikan. Hanya karena kebaikan kegelapan maka cahaya bisa memancar jauh lebih terang. Dibimbing oleh cahaya pemahaman ini, tidak saja kemarahan pada kekuatan kegelapan menurun, tapi cahaya dari dalam juga memancar semakin terang.

Tidak berhenti di situ, sang Cahaya di dalam juga hadir membawa musik yang sangat indah. Terlalu rumit untuk menjelaskan keindahan musik menggunakan sarana kata-kata. Namun ada lirik sangat menyentuh yang terdengar di sana.

Seperti sepasang sayap burung, demikian bunyi suara lirik di dalam, setiap ciptaan muncul berpasang-pasangan. Di mana ada kesenangan, di sana ada kesedihan. Di mana ada kelebihan, di sana ada kekurangan. Di mana ada pujian, di sana ada cacian. Di mana ada cahaya terang, di sana juga ada kegelapan.

Penderitaan terjadi karena manusia hanya mau sebelah sayap berupa kesenangan saja. Pencerahan terjadi karena manusia berani menggunakan baik kesenangan dan kesedihan sebagai sepasang sayap yang mengangkat jiwa terbang. Kapan saja jiwa terbang pulang, di sana ia akan mengucapkan terimakasih mendalam pada kesedihan.

“Hanya karena kebaikan kegelapan maka manusia bisa melihat cahaya yang indah menawan”

Sep 25

MANTRA GAYATRI DALAM “PURNA SAMPURNA PARIPURNA”

MANTRA GAYATRI DALAM “PURNA SAMPURNA PARIPURNA”

Oleh: Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa

 2506163dc5edd5faa39a1d6188234dd1

            Selain Maha Mantra Gayatri, di atas muka bumi ini tidak ada yang lebih hebat lagi dalam hal memberikan pembersihan dan penyucian. Gayatri memegang tangan mereka yang tenggelam di dalam lautan Neraka lalu mengangkat dan menyelamatkannya.

            Maha Mantra Gayatri merupakan mantra maha luar biasa yang sampai sekarang masih tidak begitu banyak orang memahaminya. Ia adalah ibunya segala jenis mantra. Gayatri adalah intisari dari segala jenis mantra, bahkan di dalam Mantra Gayatri tersimpan segala jenis mantra. Gayatri merupakan satu-satunya mantra yang memang berada di dalam dirinya sendiri. Gayatri mengangkat segala yang tenggelam, menyempurnakan segala yang belum sempurna penuh dengan segala kelemahan, cacat dan kekurangan, dan Maha Mantra Gayatri juga membuat sempurna yang sudah Purna serta membuat Paripurna segala sesuatu yang sudah Sampurna.

            Orang-orang suci dan kitab suci menyebutkan kekuatan serta kemuliaan Maha Mantra Gayatri sebagai satu-satunya mantra sempurna berkah karunia material spiritual. Tidak ada orang miskin dijauhi oleh rezeki jika mereka bersungguh-sungguh dalam mempraktikkan Maha Mantra Gayatri. Tidak akan ada orang mengalami sakit berat-berat jika mereka mendalami dan menekuni praktik Maha Mantra Gayatri dalam ketulusan yang ning suci nirmala. Maha Mantra Gayatri adalah benih unggul, dasar maha kuat dalam membentuk, menumbuhkembangkan “kadyhatmikan” atau agama spiritual.

            Gayatri menjanjikan keberhasilan pasti dalam segala apa yang dituju oleh umat manusia. Menembus dan menyeberangi batas-batas segala jenis sekat perbedaan “ciptaan” manusia. Kemuliaan Maha Mantra Gayatri tentu saka tidak semua orang dapat mengertikannya dengan baik, tidak semua orang dapat “mencintai-Nya”, tidak semua orang dapat mempraktikkannya, serta tidak semua orang dapat karunia “berhasil” dalam mempraktikkannya. Sebagian akan keseleo menerima puncak keberhasilan di dalam bukan puncak, sebagian keseleo menikmati keberhasilan dalam harta serta gemerlapan dunia lainnya, sangat amat jarang yang berhasil bersama Maha Mantra Gayatri dalam kesejatian Maha Mantra Gayatri itu sendiri.

            Mengapa bisa demikian? Karena Gayatri itu adalah Maha Mantra bagi orang-orang yang sudah memasuki Dwijati (dalam arti bukan seremonial atau formal upacara).

            Gayatri merupakan mantra pasti berhasil untuk segala jenis tujuan yang dituju oleh umat manusia, tentu saja dalam batas-batas bingkai Purusa Artha, dalam perjalanan penitian tujuan hidup sejati hidup manusia di dunia ini, untuk pencapaian jagat-hita (hidup damai sejahtera di dunia) dan moksa (pencapaian pembebasan kekal abadi). Selebihnya tidak banyak pula mereka yang menyadari serta memahami bahwa “tangan” mereka sebenarnya sudah “mengepal erat” berlian, akan tetapi hidupnya masih tetap berada dalam miskin segala.

            Kesalahan tentu saja tidak pada karunia Tuhan melainkan pada manusia itu sendiri yang tidak mengenali karunia Tuhan sudah berada di dalam genggaman tangannya. Bahkan bagi yang sadar agama biasa, mereka lebih memilih pemanfaatan Maha Mantra Gayatri sebagai alat atau sarana untuk menjaga formalitas agama. Mereka berbahagia hanya dalam ber-Gayatri demi agama formal, hanya untuk memenuhi persyaratan menjadi orang “tidak atheis”. Masih sangat banyak yang mempraktikkan Gayatri sebagai mantra, masih jarang pula yang mempraktikkan Gayatri sebagai Maha Mantra.

            Gayatri dalam kedudukan sebagai Maha Mantra menjadi tiang kokoh pemersatu umat manusia dalam berbagai perbedaan dan pertentangan, inter dan antaragama, suku serta ras, dan/atau segala jenis perbedaan serta pertentangan dunia lainnya. Kesempurnaan Maha Mantra Gayatri menembus segala beton serta baja perbedaan, mencairkan semua perbedaan serta pertentangan menjadi tirtha amerta senyum bahagia dalam kesadaran kekeluargaan di dalam Rumah Maha Besar nan Agung “Vasudhaiva Kutumbakam”, bahwa sesungguhnya kita semua ada di atas muka bumi ini adalah keluarga besar.

            Purna, Sampurna dan Paripurna Maha Mantra Gayatri di-“pasti”-kan oleh kitab suci Bhagavad-gita yang menyatakan bahwa Maha Mantra Gayatri adalah Tuhan sendiri (Gayatri chandasam aham) dalam bentuk Mantra (mantra-rupi-bhagavan). Dalam kemahakuasaan-Nya, Tuhan bisa menjadi apa saja, kapan saja, dimana saja serta bagaimana saja.

            Kemahakuasaan Tuhan maha mutlak, keraguan dalam bentuk apapun tidak harus ad ajika ia berhubungan dengan kemuliaan Maha Mantra Gayatri. Sumbernya amat sangat jelas serta valid (Rg Veda 3.62.10, Yayur Veda 22.9, 30.2, 36.3, Sama Veda 1462). Kekuatan spiritual Maha Mantra Gayatri mampu menyucikan lingkungan sekitar (Gayatri loka-pavani) dan Maha Mantra Gayatri juga mempunyai kekuatan maha dahsyat sebagai penghancur dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia. Tentu saja, praktik Maha Mantra Gayatri yang sesungguh dan setulus serta sesuci-murni yang bagaimana yang akan mampu memberikan kekuatan penghancur dosa.

            Tentu saja bukan praktik Gayatri yang sekadar terlebih lagi jika ia dipraktikkan hanya sebagai praktik formalitas agama dan/atau sebagai sarana “bisnis” atau pencitraan diri. Gayatri bukanlah mantra semurah itu. Gayatri adalah mantra yang harus di-“uncar”-kan secara spiritual dalam aturan-peraturan “sasana” mantram demi mendapatkan karunia penuh material dan spiritual, yang menurut kitab suci Sarasamusccaya dapat memberikan jaminan hidup damai sejahtera serta bahagia “atra-tatra” atau di dunia ini dan di dunia setelah meninggal.

            Raja Yudhistira bertanya kepada Bhisma yang sedang berbaring di atas tumpukan anak panah di medan perang Kuruksetra, perihal mantra apakah yang jika orang men-japa-kan setiap hari akan memberikan pahala dharma tertinggi dan juga memberikan kedamaian sejati?

            Bhisma memberikan jawaban tidak ada mantra yang lebih hebat lagi daripada Mantra Gayatri (gayatrya na param japyam), tidak ada pertapaan yang lebih tinggi selain Mantra Gayatri (gayatrya na param tapah), tidak ada meditasi lebih tinggi daripada Mantra Gayatri (gayatrya na param dhyanam), dan juga tidak ada anusthanam (praktik spiritual tingkat tinggi) lebih lagi selain Mantra Gayatri. Pada zaman dahulu, meraka yang menerapkan Ksatria Dharma (raja, presiden, politisi) dan mereka yang menjalani laku kebenaran, mereka selalu men-japa-kan Mantra Gayatri dengan baik dan sungguh-sungguh.

            Adi Sankaracarya dalam ulasannya terhadap Brhad Aranyaka Upanisad mengatan dari semua Chanda (ilmu irama), Gayatri Chanda merupakan yang terdepan. Melafalkan Gayatri Chanda dapat menjaga dan melindungi nyawa, oleh karena itulah Chanda tersebut dinamakan Gayatri Chanda. Brhad Aranyaka Upanisad juga menyebutkan bahwa apapun yang diniatkan orang melalui ber-japa Maha Mantra Gayatri, maka semua keinginan tersebut dapat terpenuhi oleh Mantra Gayatri. Disebutkan pula bahwa Mantra Gayatri mampu membakar segala jenis dosa.

            Kitab Devi Bhagavata menyebutkan kekuatan khusus yang dimiliki oleh Mantra Gayatri adalah mengantarkan orang pada Moksa, pembebasan kekal abadi (gayatrimatra nisnato dvijo moksamavapnuyat).

            Manu Smrti sendiri penuh memuat ajaran kemuliaan tentang Mantra Gayatri. Seorang pendeta yang tekun men-japa-kan seribu Maha Mantra Gayatri setiap hari selama satu bulan, maka ia akan terbebaskan dari dosa-dosa besar (sahasrakrtvastvabhyasya bahiretat trikam dvijah mahato’yenaso masat tvacevahirvimucyate). Brahmana, Ksatriya, dan Vaisya akan menjadi jatuh terpuruk jika mengabaikan praktik Mantra Gayatri dan lain-lain (etayarca visamyuktah kaleca krtyaya svaya brahma-ksatriya-vityonirgarhanam yati sadhusu).

            Umat Hindu dan penganut Sanatana Dharma sangat beruntung mempunyai warisan berlian mulia berupa Maha Mantra Gayatri. Pertanyaan sekarang adalah sejauh mana umat memberikan perhatiannya pada praktik Mantra Gayatri demi memperolah Purna, Sampurna, dan Paripurna dalam hidup ini?

Sep 24

BERJUMPA BELAHAN JIWA

BERJUMPA BELAHAN JIWA

Oleh: Gede Prama

14618042831850903998

Seorang anak muda bertanya ke papanya soal ciri-ciri wanita yang layak dijadikan istri. Dengan meyakinkan orang tua ini menyebut ciri-ciri ideal seperti berwajah cantik, datang dari keluarga yang terhormat, punya karir yang bagus, sampai bersedia menyapu lantai tatkala pembantu tidak ada.

Inilah ciri-ciri jiwa yang berpotensi untuk roboh. Hanya mau kelebihan, tidak mau kekurangan. Hanya menerima kesempurnaan, membuang ketidaksempurnaan. Hanya mau segi-segi indah dari orang lain, menolak segi-segi buruk dari orang lain.

Dan semua keluarga yang bubar oleh perceraian memiliki akar spiritual pada keserakahan seperti ini. Setiap sahabat yang sudah menghabiskan waktu lebih dari seperempat abad menikah dengan pasangan yang sama mengerti, tidak ada pasangan hidup yang hanya berisi kelebihan-kelebihan saja.

Mirip dengan puncak gunung yang di sebelahnya selalu berisi jurang yang dalam, setiap kelebihan selalu bersandingan dengan kekurangan. Istri yang cantik sering diikuti oleh ego yang besar di belakangnya. Suami yang tampan dan kaya kerap diikuti oleh godaan-godaan perselingkuhan.

Dari dulu hingga nanti, demikianlah hukum yang ada di alam ini. Itu sebabnya dalam kebijaksanaan Timur dikenal ungkapan tua seperti ini: “jiwa manusia mirip dengan burung yang bersayap sebelah. Hanya bisa terbang kalau rajin berdekapan”.

Berdekapan satu sama lain, itulah jalan yang bisa membuat jiwa-jiwa jadi terbang ringan. Dalam bahasa yang ringan sekaligus gamblang, kekurangan orang ada di sini tidak untuk dijelek-jelekkan. Melainkan untuk dilengkapi. Ketekunan untuk saling melengkapi inilah yang membuat keluarga selamat, membuat jiwa jadi dewasa sekaligus bercahaya.

Terinspirasi dari sini, lupakan mimpi tua kalau Anda bisa menemukan belahan jiwa seperti membeli es krim. Begitu bayar langsung dapat enaknya. Sejujurnya, belahan jiwa adalah buah dari ketekunan selama puluhan tahun untuk selalu memaafkan dan menyayangi.

Sering kali terjadi, ketekunan untuk selalu menyayangi ini bahkan membuat seseorang dihianati dan disakiti. Tapi tidak ada pilihan lain, agar jiwa dewasa dan bercahaya, seseorang harus melewati banyak sekali penderitaan dan rasa sakit. Di jalan spiritual mendalam, ini sering disebut sebagai satu-satunya jalan.

Jangankan orang-orang biasa, bahkan orang-orang suci pun harus melaluinya. Itu sebabnya Mahatma Gandhi ditembak, Nelson Mandela dipenjara selama 27 tahun, YM Dalai Lama kehilangan negerinya tatkala beliau berumur belasan tahun. Ringkasnya, rasa sakit adalah tangan-tangan kosmik yang sangat memurnikan sekaligus menyempurnakan.

Begitu jiwa memasuki taman kesempurnaan, di sana ia akan membaca pesan indah seperti ini: “kesedihan seperti hujan rintik-rintik. Kegembiraan mirip cahaya matahari. Dan Anda memerlukan keduanya agar berjumpa pelangi indah bernama belahan jiwa”. Di pojokan lain taman kesempurnaan, ada pesan seperti ini: “jika Anda mau menyentuh mawar, jangan takut sama duri. Jika Anda mau berjumpa cahaya, jangan membenci kegelapan. Jika Anda mau belahan jiwa, dekap erat-erat setiap kekurangan pasangan hidup Anda”.

Sep 23

CAHAYA YANG SESUNGGUHNYA

CAHAYA YANG SESUNGGUHNYA

Oleh: Gede Prama

1472117790853922408

“Sudah cukup mengejar cahaya ke mana-mana, sudah saatnya berbagi cahaya kepada dunia”

Seorang sahabat dari Jakarta yang pertama kali ikut sesi meditasi di Bali Utara bercerita dengan penuh rasa syukur, kalau saat meditasi bersama di pagi hari beliau melihat cahaya yang sangat indah bergerak dari arah utara, kemudian jatuh dekat-dekat tempat kami sedang melakukan meditasi pagi.

Pengalaman melihat cahaya seperti ini saat meditasi sudah dialami banyak orang sejak dulu sekali. Pesannya kemudian, jangan pernah mengizinkan penampakan cahaya sebagai bahan untuk mempertinggi ego dan keakuan. Jangan pernah merasa diri lebih begini dan lebih begitu dibandingkan orang lain setelah melihat cahaya.

Jika penampakan cahaya membuat ego dan keakuan menaik, maka hadirnya cahaya bukan membuat kehidupan seseorang jadi tambah terang. Sebaliknya, kehadiran cahaya membuat jiwa bertumbuh ke arah yang gelap. Dan ini bertentangan dengan hukum alam. Sebagaimana kita tahu bersama, di alam ini setiap kali ada cahaya menjelang maka kegelapan menghilang.

Salah satu Guru suci dari masa lalu yang bisa memaknakan pemunculan cahaya secara sangat elegan adalah Kabir. Di salah satu karyanya Kabir menulis seperti ini: “cahaya itu hanya muncul beberapa detik. Tapi ia merubah saya menjadi seorang pelayan selama-lamanya”. Inilah cara pemaknaan akan pemunculan cahaya yang disarankan.

Kekerasan yang hadir di sana-sini, angka bunuh diri yang meningkat terus, tingkat perceraian yang tidak bisa dihentikan adalah sebagian contoh kegelapan. Dan kegelapan tidak hadir untuk menghancurkan cahaya. Sebaliknya, kegelapan hadir di sini untuk membuat cahaya memancar semakin terang.

Dibimbing oleh spirit seperti ini, mari belajar menggunakan cahaya yang muncul di langit sebagai pantulan dari cahaya sesungguhnya yang ada di dalam hati. Mirip dengan melihat wajah indah di cermin. Yang layak disyukuri bukan gambar yang ada di cermin, melainkan wajah Anda yang sesungguhnya.

Tidak jauh dari waktu saat sahabat dari Jakarta melihat cahaya, seorang murid Osho berkunjung di twitter dan berbagi pesan seperti ini: “seks adalah bentuk cinta kasih yang paling rendah, menolong dan melayani adalah bentuk cinta kasih tingkat menengah. Namun compassion (belas kasih) yang rela menderita untuk kebahagiaan orang lain adalah bentuk cinta kasih yang paling tinggi”.

Rangkaian kebetulan yang penuh makna ini sedang mengundang kita semua untuk mendalami compassion (belas kasih) lebih dalam lagi. Bukan mendalami compassion dengan cara membicarakannya. Melainkan mendalami compassion dengan cara melaksanakannya dalam keseharian.

Pedomannya sederhana namun mendalam yakni banyak menolong, kalau tidak bisa menolong cukup jangan menyakiti. Siapa saja yang melaksanakan prinsip ini dalam keseharian, ia sudah menjadi cahaya yang berjalan di muka bumi. Jangankan tangan yang menolong, bahkan senyum kecil di bibir saja sudah memancarkan cahaya.

Dan bukan kebetulan kalau puncak perjumpaan sesi meditasi agustus 2016 ini bertepatan dengan hari rabu (bahasa Balinya Buddha), serta jatuh di tanggal 17-8-2016 sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pesannya, jika di zaman dulu kemerdekaan berarti undangan untuk mengusir kegelapan, di zaman ini kemerdekaan berarti undangan untuk memancarkan cahaya.

“Kegelapan tidak hadir di sini untuk menghancurkan cahaya. Kegelapan hadir di sini untuk membuat cahaya memancar jauh lebih terang”

Sep 22

DAMAI, DAMAI, DAMAI

DAMAI, DAMAI, DAMAI

Oleh: Gede Prama

1470281249370831949

“Di zaman dulu, manusia disebut pahlawan karena berani menghancurkan kehidupan. Di zaman ini, orang disebut pahlawan karena berani menyayangi kehidupan”

“Menyembah yang tidak terlihat, tapi menghancurkan yang terlihat”, itulah yang dilakukan sebagian jiwa-jiwa menderita yang tergoda untuk melakukan kekerasan. Jangankan manusia biasa, bahkan tempat suci pun dihancurkan. Sedih tentu saja, namun kesedihan bukan benih-benih kekerasan. Kesedihan adalah undangan untuk memercikkan tirtha memaafkan dan kasih sayang pada setiap api kekerasan.

Sikap seperti ini diperlukan, terutama karena penderitaan hadir di mana-mana. Jika di negara berkembang manusia tidak bisa makan karena miskin, di negara maju yang kaya jumlah manusia yang tidak bisa makan juga meningkat terus. Tentu bukan karena miskin, melainkan tidak bisa makan karena ketakutan yang berujung pada gangguan kesehatan.

Seorang kawan yang bekerja di sebuah kapal pesiar super mewah dan super mahal bercerita, tidak sedikit orang super kaya dari negeri yang kaya yang hanya minta dibikinkan telur rebus. Itu pun sebagian dikembalikan karena tidak bisa dimakan. Pelajarannya sederhana, orang miskin menderita karena kekurangan, orang kaya menderita karena takut kehilangan.

Dan mirip dengan kegelapan yang mengundang datangnya cahaya, hawa panas penderitaan di mana-mana mengundang banyak jiwa untuk sebanyak mungkin berbagi hawa kesejukan. Tidak perlu menunggu menjadi besar dan terkenal. Cukup dimulai dengan apa-apa yang bisa dilakukan di lingkungan masing-masing.

Seorang wanita bule di Ubud Bali rajin sekali memberikan makanan setiap hari pada anjing-anjing jalanan yang tidak bertuan. Ini sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Tatkala ditanyakan hasilnya, wanita ini menjawab sambil tersenyum indah sekali: “hadiah terindah cinta adalah cinta itu sendiri”.

Dengan kata lain, siapa saja yang terus menerus melakukan cinta dan kebaikan, sesungguhnya sedang melahirkan cinta dan kebaikan di dalam diri. Tatkala cinta dan kebaikan lahir di dalam diri, yang pertama kali sejuk dan teduh adalah yang bersangkutan.

Di bagian selatan bumi bernama Australia pernah ada nenek yang merayakan ulang tahun yang ke 100. Padahal ia ditinggal meninggal sama suaminya selama 48 tahun serta tidak pernah menikah lagi. Saat ditanya rahasianya apa, dengan tatapan mata yang polos nenek ini bergumam: “tatkala kita merawat kehidupan, kita juga dirawat oleh kehidupan”.

Itu alasan kenapa nenek ini selalu menyirami tanaman begitu bangun pagi, memberi makan pada kucing kesayangannya, merawat semua benda-benda peninggalan almarhum suaminya, sering mengundang cucu-cucunya untuk menikmati kue bikinan sang nenek.

Pesan bimbingannya sederhana, alam dan kehidupan mirip dengan jejaring laba-laba. Apa yang dilakukan di sana akan balik ke diri yang bersangkutan. Ia yang berbagi senyuman akan mendapatkan senyuman. Ia yang berbagi cahaya akan mendapatkan cahaya. Ia yang sering mendekap akan didekap balik.

Siapa saja yang mengerti dan menerapkan ini dalam-dalam, suatu hari tidak saja menemukan kehidupan yang sejuk dan lembut, tapi juga berbagi kesejukan dan kelembutan kepada dunia yang sedang panas dan ganas di sana-sini. Sekaligus, inilah tirtha yang sangat dibutuhkan oleh dunia yang sedang terbakar di sana-sini. Siapa saja yang tekun dan tulus memercikkan tirtha kesejukan dan kelembutan setiap hari, setiap langkahnya berbunyi seperti ini: “damai, damai, damai”.

“Sebuah sikap yang indah memancarkan jauh lebih banyak cahaya dibandingkan dengan jutaan manusia yang marah-marah

Sep 20

LIBURAN YANG SESUNGGUHNYA

LIBURAN YANG SESUNGGUHNYA

Oleh: Gede Prama

Meditasi c

Masyarakat Barat umumnya sangat menyukai berlibur. Sebagian bahkan pergi ke tempat yang sangat jauh, mengeluarkan banyak sekali uang untuk berlibur. Di antara banyak industri yang ada, salah satu industri yang bertumbuh terus adalah industri pariwisata. Digabung menjadi, kerinduan manusia akan liburan memang luar biasa.

Dari segi keseimbangan jiwa, berlibur itu sangat sehat. Ada waktu-waktu untuk berkarya dan bekerja yang tegang, ada waktu-waktu berlibur yang ringan. Ada putaran waktu yang diisi hal-hal serius, ada putaran waktu yang diisi oleh hal-hal yang santai dan rileks.

Gabungan antara kedua waktu inilah yang membuat jiwa bertumbuh tidak terlalu jauh dari keseimbangan. Serangkain cara bertumbuh yang membuat jiwa jauh dari stres dan depresi, sekaligus bisa membuat jiwa jadi dewasa sekaligus bercahaya.

Akan tetapi, tidak banyak orang yang menyadari kalau ada jenis liburan yang jauh lebih dalam dari sekadar pergi ke tempat yang jauh, menginap di hotel yang indah, atau menikmati kehidupan yang berbeda sama sekali dengan waktu-waktu keseharian.

Di dunia meditasi, khususnya di tingkat lanjut, para pencari terus menerus diingatkan untuk “istirahat”. Maksudnya, istirahat dari segala bentuk pertengkaran di dalam seperti salah-benar, kotor-suci, cacian-pujian, gagal-sukses, miskin-kaya, buruk-baik, neraka-surga.

Caranya sederhana, setiap kali ada gerakan pikiran dan perasaan yang mengarah pada pertengkaran di dalam, biarkan energi pertengkaran tersebut mengalir sesuai dengan hukumnya. Ada saatnya ia muncul, ada saatnya ia lenyap. Yang penting jangan mengizinkan diri Anda diseret dengan berreaksi secara berlebihan.

Setiap sahabat yang meditasinya mendalam mengerti, sedalam apa pun meditasi seseorang, gerakan-gerakan energi di dalam tetap terjadi. Cuma, semakin dalam meditasi seseorang semakin sedikit ia ditarik ke sana ke mari.

Awalnya, energi pertengkaran di dalam muncul dengan wajah yang kasar seperti memancing kita untuk marah. Begitu ia sering dibiarkan mengalir tanpa berreaksi sama sekali, lama-lama energi tadi muncul dalam wajah yang halus seperti merasa diri di dalam sudah suci.

Jika praktik meditasinya mendalam, bahkan perasaan suci di dalam ini pun hanya dibiarkan lewat, disaksikan tanpa perlu berreaksi sama sekali. Sampai suatu waktu, energi-energi di dalam muncul dalam wajahnya yang super halus seperti merasa tercerahkan.

Perasaan tercerahkan ini pun dibiarkan lewat, tidak diceritakan ke siapa-siapa. Ia mirip dengan alam yang mengizinkan malam dan siang pergi silih berganti. Siapa saja yang bisa sesempurna ini meditasinya, dialah yang sudah menemukan liburan yang sesungguhnya. Setiap tempat, setiap waktu, setiap kejadian menjadi waktu liburan.

Sep 18

Taburan Amerta Brahma Muhurta di Pagi Hari

Taburan Amerta Brahma Muhurta di Pagi Hari

Oleh: Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa

 Brahma Muhurta

            “Tidur pada waktu Brahma Muhurta di pagi hari merupakan penghancur segala kemuliaan. Dia yang tidur di pagi hari Brahma Muhurta hendaknya menyucikan dirinya dengan melakukan pertapaan yang bernama Pada-krccha Prayascitta.

            Tradisi Veda sangat menekankan keutamaan bangun pagi. Waktu penuh berkah di pagi hari tersebut dinamakan Brahma Muhurta. Pada detik-detik Brahma Muhurta di pagi hari orang hendaknya bangun dari tempat tidurnya, melakukan kewajiban pagi di toilet, mandi, dan melakukan sembahyang Sandhya pagi, bermeditasi kepada Dewi Yamuna atau Dewi sungai suci lainnya, dan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ketika matahari terbit, orang hendaknya mandi di sungai suci Yamuna – brahme muhurta utthaya dhyatva devim kalindajam, arunodaya velayam nadyam snanam samacaret (Garga Samhita 4.18.14).

            Tradisi leluhur menganjurkan agar orang selalu bangun pagi. Dalam Bahasa Jawa ada istilah “Yen tangi ojo ngenteni ayam kluruk” yang artinya: kalau bangun pagi jangan menunggu ayam berkokok (karena rezekinya akan dipatuk ayam). Apapun istilah yang dipergunakan, atau cara yang dipergunakan leluhur kita untuk mengingatkan orang akan pentingnya bangun pagi, itu semua pasti diarahkan pada kemuliaan hidup kita sebagai manusia, baik kemuliaan hidup dunia material maupun demi kemajuan spiritual.

            Tradisi Veda menyebutkan pagi hari itu dengan istilah Brahma Muhurta. Ia merupakan waktu “emas” bagi umat Sanatana Dharma, agama sempurna yang langgeng abadi. Brahma Muhurta artinya waktunya Tuhan. Dengan kata lain, Brahma Muhurta adalah waktu di pagi hari yang sangat berharga untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Brahma Muhurta merupakan waktu-waktu berakhirnya malam, detik-detik akhir orang beristirahat malam, alias waktu tepat untuk bangun pagi. Waktu yang tepat untuk Brahma Muhurta adalah 1 jam 30 menit sebelum matahari terbit. Di era internet dan ponsel cerdas ini, data mengenai waktu terbitnya matahari diberbagai belahan dunia bisa didapat dengan mudah. Bangun di detik-detik Brahma Muhurta memberikan segala jenis kemuliaan datang menyapa. Disebutkan bahwa tidak aka nada kemiskinan atau “seret rezeki” bagi mereka yang terbiasa bangun pagi di saat-saat Brahma Muhurta.

            Para leluhur bangsa Indonesia sangat menekankan bangun pagi dengan penekanan kemurahan rezeki. Dewi Laksmi, Dewi Uang/ harta akan datang pada mereka yang rajin bangun pagi. Canakya Niti Sastra mengajarkan orang yang berpakaian kotor, di giginya melekat kotoran, yang makan terlalu banyak, yang berkata-kata keras dan kasar, dan yang menggunakan waktu antara matahari terbit dan terbenam dengan tidur (suryodaye castamite sayanam vimuñcati srir yadi cakrapanih), walaupun ia hebat dan agung bagaikan Sang Hyang Cakrapani (Tuhan) tetapi Dewi Laksmi (rezeki) akan menjauh darinya.

            Brahma Muhurta merupakan detik-detik penuh karunia, khususnya dalam pembentukan kemuliaan dunia dan spiritual. Pada saat Brahma Muhurta, keadaan pikiran orang berada dalam keadaan terbaik, tenang, damai, kurang tekanan dan gebuan serta kerlap-kerlipnya pikiran. Keadaan pikiran tenang dan damai akibat Brahma Muhurta merupakan keadaan yang sangat tepat untuk mempraktikkan praktik-praktik spiritual. Disebutkan, praktik spiritual yang dilakukan di siang hari, sore, atau malam hari kalah reaksi karunia dengan saat-saat Brahma Muhurta. Sekali lagi, sesuai dengan namanya, Brahma Muhurta, waktunya Tuhan, bukan hanya orang-orang yang menginginkan kemuliaan material berupa kesehatan dan rezeki, bukan hanya mereka yang mengumumkan kemuliaan bangun pagi, melainkan orang-orang suci dan kitab suci juga sangat menekankan kemuliaan bangun pagi. Brahma Muhurta merupakan waktu yang paling tepat untuk meninggalkan kemalasan demi menyambut kecantikan, ketampanan, kekuatan, pengetahuan, kesehatan, kecerdasan, serta kedyatmikan (spiritual). Hukum Bhuwana Agung – Bhuwana Alit atau macrocosmos – microcosmos menyatakan bahwa yang terjadi di alam semesta terjadi juga di dalam diri manusia. Ketika matahari terbit di pagi hari maka di dalam diri manusia juga terjadi terbitnya energi.

            Bangun pagi di saat Brahma Muhurta sangat ditekankan oleh kitab Ayur Veda. Orang yang menginginkan kesehatan dan panjang umur hendaknya selalu bangun di pagi hari di saat Brahma Muhurta (brahma muhurte uttisthet swastho raksarthamayusah). Orang yang tetap tertidur di pagi hari pada saat-saat penuh karunia bernama Brahma Muhurta, sebenarnya ia sedang menghancurkan segala kemuliaan dirinya (brahma muhurte ya nidra sa punyaksaya-karini). Para Resi yang menulis kitab-kitab suci tersebut sangat menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan rezeki demi mendapatkan hidup dan kehidupan yang lebih mulia selama hidup di dunia ini.

            Sesungguhnya juga, ajaran-ajaran Veda selalu didukung oleh alasan “scientific” di belakangnya. Ketika orang meneliti dengan baik dan jujur terhadap ajaran-ajaran Veda, maka mereka akan menemukan alasan sangat masuk akal di balik ajaran-ajaran tersebut. Orang sebenarnya hanya perlu mengikuti, mempraktikkan, dan menerapkan di dalam kesehariannya. Dengan cara seperti itu, orang akan mendapatkan manfaat penuh dari ajaran-ajaran Veda dan juga akan banyak menyelamatkan waktu tidak dibuang-buang dalam keraguan serta pencarian sia-sia.

            Pada saat Brahma Muhurta di pagi hari udara tidak mengalami polusi dan sangat baik untuk membersihkan paru-paru, karena tersedia oksigen terbaik yang bisa didapatkan. Menurut penelitian, disebutkan bahwa oksigen di pagi hari adalah yang terbaik (41%), sangat bermanfaat untuk membersihkan paru-paru. Perolehan oksigen terbaik ini sangat mempengaruhi kesehatan badan dan pikiran. Asupan oksigen segar pada sel-sel darah putih dapat meningkatkan immunisasi tubuh.

            Di dunia, khususnya di India, sangat banyak orang melakukan olah raga jalan pagi di jalan atau di taman. Menurut Ayur Veda, bangun pagi-pagi di saat Brahma Muhurta lalu jalan-jalan pagi akan menyebabkan kekuatan “sañjiwani sakti” beredar menyeluruh ke dalam tubuh. Sañjiwani sakti adalah kekuatan amerta yang memberikan kesehatan serta umur panjang. Jalan-jalan pagi di udara bersih akan mengaktifkan peredaran sañjiwani sakti di dalam tubuh.

            Pikiran dan badan di pagi hari menjadi fresh, segar. Udara juga sangat bersih dan lingkungan damai. Pagi hari merupakan saat paling tepat dimanfaatkan untuk melakukan praktik-praktik agama spiritual. Melakukan gerakan Yoga Surya Namaskar di pagi hari, khususnya ketika matahari mulai terbit dapat memberikan kesehatan bagus. Matahari terbit di pagi hari membawa 7 sinar yang memberikan kesehatan, usia panjang, dan segala kemuliaan hidup. Semakin naik matahari semakin berkurang kekuatan karunia 7 sinar tersebut. Pada siang hari tinggal sinar pemanas saja. Jadi, pagi hari merupakan saat yang sangat indah untuk membangun hidup yang sehat, panjang umur melalui praktik Yoga, Sembahyang (Puja, Upasana), dan Dhyana (meditasi).

            Ada pertanyaan, “Apakah perlu mandi sebelum melakukan sembahyang Sadhana?” Ketika pertanyaan tersebut disampaikan oleh mereka yang dari negara-negara Barat, dan/atau mereka yang berasal dari negara -negara dingin bersalju, maka pertanyaan menjadi sebuah pertanyaan yang normal dan wajar. Akan tetapi, jika pertanyaan tersebut disampaikan oleh mereka yang berasal dari negara-negara tropis, maka ia menjadi sangat aneh, bahkan ketika pertanyaan tidak sehubungan dengan kegiatan keagamaan spiritual.

            Berbicara perihal kebersihan, maka mandi menjadi keharusan. Berbicara perihal kesehatan, maka mandi juga merupakan sebuah kebiasaan yang sangat sehat. Terlebih lagi, sehubungan dengan kegiatan agama dan/atau spiritual, maka mandi adalah sebuah keharusan. Jika tidak penting dan bermanfaat, maka kitab suci tidak mungkin akan memberikan perhatian khusus terhadap kepentingan mandi.

            Kitab-kitab suci sangat mengagung-agungkan kemuliaan mandi, terlebih-lebih khususnya mandi pagi, karena pagi merupakan waktu penuh berkah untuk melakukan praktik-praktik agama spiritual (pratah snanam prasamsanti). Resi Sankaracarya memberikan perumpamaan, jika orang ingin menghilangkan kotoran-kotoran badannya, maka ia harus mandi dengan air setiap hari (mala nirmocanam pumsam, jala snanam dine dine). Mandi, menurut Maharesi Daksa akan membantu menjaga kebersihan lahir batin sehingga yang bersangkutan akan sangat terbantu dalam praktik agama spiritualnya. Hanya setelah mandi orang layak melakukan sembahyang, japa mantra, dan aktivitas agama spiritual lainnya (pratah snayi japadikam).

Sep 05

Liputan Widya Sabha KMHD YBV Undiksha Tahun 2016

Aug 30

Pengumuman Perekrutan Panitia LCC AH IX

Om Swastyastu semeton titiang civitas Hindu Undiksha, ngiring baca lan sarengin kegiatan sane jagi kalaksanayang nggih.
Om Shanti Shanti Shanti Om.
Satyam Eva Jayate

FB_IMG_1472517540810

Aug 27

Contoh Lantunan Sloka Bhagavad Gita

(Sloka Pendek)

Bab IV Śloka 7

yada yada hi dharmasya

glanir bhavati bharata

abhyutthanam adharmasya

tadatmanam srjamy aham

 

Bab IV Śloka 8

paritranaya sadhunam

vinasaya ca duskrtam

dharma-samsthapanarthaya

sambhavami yuge yuge

 

Download disini: Sloka Pendek

 
 

(Sloka Panjang)

Bab II Śloka 20

na jāyate mriyate vā kadācin

nāya bhūtvā bhavitā vā na bhūya

ajo nitya śāśvato ‘ya purāṇo

na hanyate hanyamāne śarīre

 Bab II Śloka 22

vāsāṁsi jīrṇāni yathā vihāya

navāni ghṇāti naro ‘parāṇi

tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny

anyāni sayāti navāni dehī

 

Download disini: Sloka Panjang

Older posts «