Jul 13

Pengurus KMHD YBV Undiksha Masa Bakti 2016/2017

Jul 01

Lirik Persembahan Utama

Persembahan Utama

Oleh: Prabhu Darmayasa & Artis Paramadhama

persembahan

yat karosi yad asnasi, yaj juhosi dadasi yat

yat tapasyasi kaunteya, tat kurusva mad-arpanam

(Bhagavad Gita IX.26)

patram puspam phalam toyam, yo me bhaktya prayacchati

tad aham bhakty-upahrtam, asnami prayatatmanah

(Bhagavad Gita IX.27)

Apapun yang kau lakukan, apa saja yang kau makan,

apapun persembahanmu, bhaktikanlah pada Tuhan.

Walau hanya sehelai daun, bunga-bunga setetes air,

persembahkan penuh bhakti , niscaya Tuhan memberkati.

samo ‘ham sarva bhutesu, na me dvesyo ‘sti na priyah

ye bhajanti tu mam bhaktya, mayi te tesu capy aham

(Bhagavad Gita IX.29)

Narasi:

Aku bersikap sama pada semua mahluk, tidak ada yang Aku benci dan tidak ada yang Aku kasihi. Akan tetapi, mereka yang memuja-Ku dengan penuh rasa bhakti, maka dia akan sealalu bersama-Ku dan Aku ada pada dirinya.

Jun 28

MENJAGA KETUNDUKAN HATI

MENJAGA KETUNDUKAN HATI

Oleh: Prabhu Darmayasa

dilipa

            Tersebutlah seorang raja yang bernama Maharaja Dilipa. Beliau adalah penguasa Kerajaan Ayodhya, sama dengan kerajaan Shri Rama karena memang Maharaja Dilipa adalah leluhur Shri Rama. Pada suatu hari, istri beliau mengeluhkan keadaan mereka yang belum juga mendapatkan karunia seorang putra. Setelah beberapa lama berdiskusi, akhirnya diputuskan bahwa mereka akan segera pergi mengunjungi guru mereka, yaitu Maharesi Vasistha. Maharesi Vasistha adalah sebutan guru bagi keluarga raja-raja Ayodhya. Maharesi Vasistha yang mengetahui penyebab permasalahan ketidakberadaan keturunan Maharaja Dilipa, akhirnya memberikan petunjuk. Dahulu, ketika Maharaja Dilipa berkunjung ke surgaloka, beliau bertemu Dewa Indra, dan ketika kembali ke Bumi. Karena saking terburu-burunya beliau tidak melihat sapi suci Kamadhenu dan tidak menyapanya. Oleh karena Maharaja Dilipa adalah seorang raja yang sangat saleh, maka kesalahan seperti itu adalah kesalahan yang dianggapnya sangat penting dan serius. Bagaikan semisal seorang menteri lewat di Air Port, kemudian saking tergesa-gesanya ia tidak melihat keberadaan presiden yang kebetulan juga berada disana dan tidak menghormat, maka tentu saja sebagai presiden jika tidak memberikan sangsi maka beliau dapat dianggap ‘tidak menjaga kepresidenannya’. Begitu pula karena Maharaja Dilipa adalah seorang raja yang suci, maka beliau tanpa sadar telah melakukan kesalahan fatal. Kamadhenu adalah sapi suci, sapi surgawi yang juga penuh dengan aturan kesucian, karenanya jika beliau membiarkan kesalahan Maharaja Dilipa begitu saja, maka Kamadhenulah yang semestinya mendapatkan pahala tidak baiknya. Oleh karena itu Kamadhenu lalu mengutuk Maharaja Dilipa agar tidak bisa mempunyai keturunan. Dan itu bisa diselesaikan jika Maharesi Dilipa melayani keturunan dari Kamadhenu. Resi Vasistha lalu menyampaikan semua kejadian yang beliau lihat melalui meditasinya. Dan demi mendengar penuturan gurunya tersebut, Maharaja Dilipa berkata, “Guru… sapikan binatang suci dan penuh kasih, saya tentu saja dengan senang hati akan melakukan pelayanan pada sapi”. Resi Vasistha berkata, “Ya… di ashramku ada putri dari Kamadhenu yang bernama Nandini. Layanilah sapi itu dengan baik”. Maharaja Dilipa segera menyatakan kesanggupannya untuk melayani sapi Nandini. Keesokan paginya Maharaja Dilipa pergi ke kandang sapi. Melihat Maharaja mambawa tongkat gembala, Nandini mengerti bahwa dirinya akan dibawa ke hutan untuk mencari rumput segar. Nandini pun berjalan menuju hutan, sedangkan dari belakang Maharaja Dilipa mengikuti dengan penuh kewaspadaan menjaga Nandini dari segala bahaya. Bahkan pelayanannya dilakukan dengan penuh rasa bhakti, sehingga satu ekor lalat pun tidak pernah dibiarkannya hinggap di tubuh sapi Nandini. Ketika Nandini bergerak maju, maka Maharaja Dilipa pun bergerak maju. Demikian pula halnya ketika Nandini berhenti, Raja Dilipa juga ikut berhenti. Dan Raja Dilipa hanya meminum air ketika sapinya pergi ke sungai meminum air. Di saat hari beranjak senja, ketika sapi bergerak pulang menuju Ashrama Guru Vasistha, Raja Dilipa ikut pulang ke ashrama. Di ashrama, permaisuri raja Maharani Sudakshina segera memuja sapi Nandini dan malam hari menyalakan lampu dipa di kandang sapi. Raja Dilipa pada malam harinya tidur di kandang sapi. Demikian kegiatan yang dilakukan Raja Dilipa sehari-hari melayani sapi Nandini.

            Tibalah pada hari ke-30, ketika sedang berada di dalam hutan, karena beliau adalah seorang pecinta keindahan, Raja Dilipa terpesona oleh kecantikan alam sekitarnya, dan matanya terpesona pada suatu bunga yang sangat indah sehingga sangat menawan hatinya dan ia pun terlelap dalam keindahan bunga tersebut sehingga perhatiannya lepas dari sapi Nandini. Tiba-tiba beliau tersadar bahwa beliau saat itu sedang bersama Sapi Nandini. Dan… apa yang terjadi? Ternyata Sapi Nandini telah hilang dari pandangan Raja Dilipa. Setelah sekian lama dicari-cari, akhirnya terdengar suara rintihan Sapi Nandini. Alangkah kagetnya Raja Dilipa melihat Sapi Nandini telah berada dalam cengkraman seekor singa besar. Raja Dilipa segera bergerak hendak mengeluarkan busur dan anak panah, tetapi tangannya segera terkunci dan beliau pun tidak bisa bergerak sama sekali. Tiba-tiba singa itu berbicara dalam bahasa manusia dan berkata, “Raja Dilipa, aku bukanlah singa sembarangan, tetapi aku adalah singa pelayan Dewa Shiwa. Saat ini aku sangat lapar dan sapi ini datang sendiri ke dalam cengkramanku, maka itu artinya ia telah menjadi hakku, maka dari itu engkau pergilah dari sini”. Raja Dilipa segera menghormat pada singa itu sambal berkata, “Saya menghormat pada anda sebagai pelayan Dewa Shiwa, anda pastilah pelayan yang pemurah hati, untuk itu saya memohon agar sapi itu jangan dibunuh”. Namun singa tersebut tidak mau melepaskan Sapi Nandini. Meskipun dengan berbagai daya dan upaya oleh sang raja dibujuk lagi, lagi, dan lagi… tetap saja singa tersebut tidak mau melepaskan Sapi Nandini. Akhirnya Raja Dilipa mengatakan bahwa karena Sapi Nandini adalah milik gurunya, maka Raja Dilipa siap menjadikan dirinya tumbal sebagai pengganti jika Nandini segera dibebaskan. Namun singa tetap bertahan dan sebaliknya membujuk agar Maharaja Dilipa tidak mengorbankan jiwanya hanya untuk Nandini. Kalaupun Raja Dilipa menyayangi sapi, beliau bisa melayani ribuan sapi yang lain.

            Akan tetapi Raja Dilipa tetap bersikeras untuk menukarkan Nandini dengan jiwanya. Akhirnya singa berkata, “Baiklah… tidak masalah…” maka saat itu pula tangan Raja Dilipa menjadi normal kembali. Beliaupun segera meletakkan busur dan anak panahnya. Singapun segera memenuhi janjinya dan melepaskan Nandini. Raja segera mendekan dan bersimpuh di hadapan singa untuk menyerahkan hidupnya. Ketika ia siap-siap menerima cengkraman kuku dan taring tajam singa, tiba-tiba ia merasakan hujan bunga yang sangat harum semerbak turun dari langit membanjiri kepalanya. Dan ketika mendongakkan kepalanya beliau tidak mendapati ada singa lagi di hadapannya.

            Dan tiba-tiba Sapi Nandini berbicara dalam Bahasa manusia, “Raja Dilipa… sebenarnya tidak ada singa seperti yang tadi engkau lihat, karena akulah yang menciptakan ilusi itu untuk mengujimu. Sekarang engkau telah lulus, karenanya aku berikan susuku kepadamu. Silahkan engkau ambil daun dan minumlah air susuku sepuasnya, maka engkau akan mendapatkan anugrah seorang anak yang sangat utama”. Raja Dilipa segera menunduk serta menyembah Ibu Nandini dan berkata, “Susu itu adalah hak anak anda, saya boleh menerimanya hanya setelah guru saya memberikan izin dan setelah anak anda meminumnya”. Mendengar penuturan tersebut, Sapi Nandini segera mengiyakan, dan merekapun kembali pulang ke ashrama Maharesi Vasistha.

            Singkat cerita… Raja Dilipa akhirnya mendapat karunia seorang putra yang suputra, yang kemudian diberikan nama Maharaja Raghu. Dan dari sinilah terciptanya lagu Raghupati raghava raja ram, Patita pavana sita ram, Sita Ram Jaya Sita Ram, Jaya Sita Ram jaya jaya Hanuman. Sebuah lagu yang sangat dicintai oleh Mahatma Gandhi.

            Pesan apakah yang terkandung dibalik cerita ini? Ya… disini diceritakan bagaimana seorang menjadi murid memberikan penghormatan pada gurunya, bagaimana seorang murid melaksanakan segala perintah gurunya tanpa menimbang-nimbang apakah dirinya pantas melakukan perintah gurunya atau tidak. Dapat dibayangkan bagaimana patuhnya seorang Maharaja yang diperintahkan gurunya untuk menjadi penggembala sapi. Di zaman sekarang ini sepertinya tidak akan pernah ada seorang presiden yang rela disuruh penasihatnya untuk menggembalakan sapi ke hutan, apalagi mengorbankan dirinya untuk sapi?

            Namun hal itulah pelajaran yang dapat kita petik sebagai pe-Meditasi Angka yang hendaknya selalu menjaga ketekunannya dalam penitian jalan spiritual di bawah bimbingan seorang guru yang suci, yang hendaknya selalu menjaga keyakinan penuhnya pada petunjuk gurunya. Hanya dengan cara itulah seorang pe-Meditasi Angka akan sampai dengan selamat pada tujuan spiritualnya. Seorang pe-Meditasi Angka hedaknya selalu menanamkan dalam bathinnya bahwa kata-kata guru telah melihat, sedangkan murid dengan segala keterbatasannya hanya mampu menebak, bagaikan seseorang yang meraba-raba dalam kegelapan.

            Pelajaran lainnya adalah bagaimana hendaknya seorang pe-Meditasi Angka menjaga ketundukan hatinya. Bahkan sepeti pesan Prabhu Darmayasa, hendaknya kita menempatkan diri kita lebih rendah dari rumput di jalanan. Dari rumput juga kita bisa melihat bagaimana ia berusaha bangkit setelah diinjak-injak oleh manusia ataupun hewan lain yang lewat. Seperti yang juga pernah disampaikan dalam salah satu wejangannya, Prabhu juga mengingatkan para pe-Meditasi Angka, bahwa Tuhan hanya akan melihat insan-Nya yang tunduk hati. Hal inilah yang diajarkan oleh cerita di atas, bagaimana seorang raja yang agung menempatkan dirinya tidak lebih tinggi dari sapi. Padalah ia adalah Maharaja dan bukan sekedar raja biasa. Hanya dengan ketundukan hatinya saja Raja Dilipa mendapatkan berkah yang maha utama, yaitu seorang Putra yang Suputra.

Semoga semua berbahagia.

Sriguru,

Darmayasa.

Jun 27

Lirik Bebas Dari Punarbhawa

Bebas Dari Punarbhawa

Oleh: Prabhu Darmayasa & Artis Paramadhama

prabhu

karmay evādhikāras te, mā phaleu kadācana

mā karma-phala-hetur bhūr, mā te sago ‘stv akarmai

(Bhagavad Gita II.47)

Hakmu hanya pada kerja, dan bukan pada hasilnya,

kau bukan penyebab kerja, dan janganlah tidak bekerja.

karma-ja buddhi-yuktā hi, phala tyaktvā manīṣia

janma-bandha-vinirmuktāḥ, padaṁ gacchanty anāmayam

(Bhagavad Gita II.51)

Orang suci terbebaskan, dari pahala perbuatan,

mereka terbebaskan, dari perputaran sengsara,

perputaran punarbhawa…

Jun 25

Hari Raya Saraswati

Om Swastyastu.

Rahajeng Rahina Suci Saraswati..

Dumogi Rahayu

Shantih..

saraswati

Jun 23

Lirik Hamba Murid-Mu

Hamba Murid-Mu

Oleh: Prabhu Darmayasa & Artis Paramadhama

1

kārpaya-doo’pahata-svabhāva

pcchāmi tvāṁ dharma-sammūḍha-cetāḥ

yac chreya syān niścita brūhi tan me

śiyas te’ham śādhi māṁ tvāṁ prapannam

(Bhagavad Gita II.7)

Hamba yang lemah penuh kekurangan,

ajarkanlah dharma pada hamba-Mu,

katakan pasti apa yang lebih baik,

hamba murid-Mu berpasrah pada-Mu,

hamba murid-Mu berpasrah pada-Mu.

Hamba yang lemah penuh kekurangan,

ajarkanlah dharma pada hamba-Mu,

katakan pasti apa yang lebih baik,

hamba murid-Mu berpasrah pada-Mu,

hamba murid-Mu berpasrah pada-Mu.

Jun 06

Lirik “Atma Kekal Abadi”

ATMA KEKAL ABADI

Oleh: Prabhu Darmayasa & Artis Paramadhama

1

na jāyate mriyate vā kadācin

nāyaṁ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ

ajo nityaḥ śāśvato ‘yaṁ purāṇo

na hanyate hanyamāne śarīre

(Bhagavad Gita II.20)

Atma tak terlahirkan dan tak pernah mati

Tidak jaman dulu dan jaman akan datang

Kekal abadi, ada semalanya

Atma tidak mati ketika badan mati

Sang roh tidak mati ketika badan mati

vāsāṁsi jīrṇāni yathā vihāya

navāni gṛhṇāti naro ‘parāṇi

tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny

anyāni saṁyāti navāni dehī

(Bhagavad Gita II.22)

Bagai menanggalkan pakaian sudah usang

Bagai menanggalkan pakaian sudah usang

Lalu memakai pakaian yang baru

Seperti itulah atma meninggalkan sang badan

Lalu memasuki badan yang baru

Lalu lahirlah lagi pada badan yang baru

Jun 01

Hari Lahir Pancasila

Selamat Hari Lahir Pancasila…

Indonesia…

lahir pancasila

May 25

Hasil Seleksi Pengurus KMHD YBV Undiksha Masa Bakti 2016/2017

Berikut adalah draf susunan pengurus KMHD YBV Undiksha Masa Bakti 2016/2017, Silahkan dicermati.

Sukma.

Jaya, Shantih.

Draf Susunan Pengurus KMHD YBV Undiksha 2016

May 12

Ahimsa dan Kasih

anjing

Oleh: Sri Rahayu Puspawati

Sumber: Majalah Meditasi Angka Edisi 11 Tahun 2009

 

            Seorang lelaki miskin berjalan tidak tentu arah tujuan. Ia sebatang kara, berumah di atas bumi di bawah langit alias homeless. Dalam perjalanannya yang tanpa tujuan dan tanpa akhir itu sampailah ia di sebuah kerajaan yang makmur dan sejahtera. Raja yang memerintah terkenal sangat adil dan bijaksana serta memperhatikan rakyatnya.

Hari itu ia merasa sangat lapar. Sudah tiga hari perutnya belum diisi. Ia berjalan terseok-seok dan hamper jatuh pingsan. Teriknya matahari musim panas membuat ia menjadi semakin lemah. Tiba-tiba…, pandangannya tertumpu pada pohon perindang jalan. Setelah ia perhatikan dengan baik, ternyata perindang sepanjang jalan itu adalah pohon manga yang semuanya sedang sarat dengan buah yang ranum. “Cacing-cacingku, berhentilah menggeliat, kita akan segera pesta manga matang” gumamnya sambal mengelus-elus perutnya yang buncit karena lapar. Hal itu membuat rasa laparnya semakin menjadi-jadi.

Lelaki itu berusaha mencari-cari sesuatu untuk dapat dipakai mencolok mangga. Tetapi, ia tidak menemukan apapun di sekitarnya selain beberapa bongkah batu. Diambilnya sebongkah batu sebesar kepalan tangan lalu dilemparkannya kea rah buah-buah manga yang bergelayutan di ranting. Empat buah mangga matang berjatuhan ke atas tanah dihadapannya. Ia memungut keempat buah mangga itu, sambal duduk santai di bawah pohon, dilahapnya mangga itu satu per satu. Selagi asyik-asyiknya makan mangga, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran empat orang pengawal kerajaan berwajah bengis di hadapannya. Tanpa berkata sepatahpun, para pengawal kerajaan langsung menangkap dan mengikat tangannya. Lelaki tersebut benar-benar bingung dan tidak mengerti mengapa dirinya ditangkap? Ada apa gerangan?

Pengawal kerajaan langsung memasukkan lelaki itu ke penjara gelap yang dihuni tikus-tikus dan kecoa. Ia menjadi semakin ngeri. Rupanya, tanpa disadari batu yang ia pakai melempar mangga, sebelum jatuh kembali ke bumi, ternyata batu itu iseng singgah di kepala raja yang sedang berjalan-jalan memeriksa keadaan negerinya. Kontan sang raja jatuh tersungkur tidak sadarkan diri. Para pengawal segera melarikan sang raja ke rumah sakit kerajaan.

Setelah dua hari lelaki itu mendekam di penjara gelap gulita, tiba-tiba pintu jeruji besi dingin itu terbuka. Dua tentara segera menyeretnya ke luar tanpa memberitahu ia akan dibawa kemana.

Pagi itu sang raja sudah merasa lebih baik dan bisa duduk kembali di singasana kerajaan. Dihadapannya sudah hadir hakim kerajaan siap mengadili si miskin. Dengan kedua tangan masih terikat rantai, tubuh ringkihnya dilemparkan dihadapan sang hakim dan seluruh perangkat kerajaan yang sudah tidak sabar ingin mendengar hukuman terberat untuk dijatuhkan pada si miskin. Rakyat yang menghadiri pengadilan pun tidak mau ketinggalan ikut meneriakkan makian dan umpatan pada si miskin yang telah melukai raja yang amat mereka cintai itu. “Bunuh saja…”. “Bunuh saja…” teriak salah seorang dari mereka yang langsung disambut riuh oleh yang lain. Si miskin tidak sanggup menahan rasa takut, lututnya gemetar dan ia jatuh bersimpuh dihadapan sang raja. Air matanya menetes bercampur dengan keringat dingin yang terus mengucur. Hakim kerajaan memulai siding. “Hey kamu…” teriaknya, “Kenapa kamu melempar batu?”. “Ayo Jawab!!” dengan gemetar si miskin menjawab terbata-bata, “A…ampu…nnn…tuan…, hamba…melempar batu…untuk…mendapat mangga”. Melihat keadaan si miskin sang raja terenyuh hatinya, ia lalu memerintahkan pengacara untuk duduk, dan ia sendiri yang ingin melanjutkan peradilan itu.

“Apa kamu dapat mangga yang kamu lempar itu?”, tanya raja.

“I…iya tuan”

“Berapa mangga yang kamu dapat?”

“Empat tuan”

“Sudah kamu makan semua?”

“Baru dua tuan”

“Berarti kamu sangat lapar sekrang”

Sambil menunduk si miskin mengangguk lemah. Raja segera memerintahkan pengawalnya, “Pengawal, ambilkan ia makanan yang lezat dan beri ia makan sampai kenyang”.

Perintah sang raja kali ini sungguh membuat semua yang hadir kebingungan. Hukuman pun dijatuhkan langsung oleh sang raja. Si miskin diharuskan mandi yang bersih lalu diberi tempat tinggal dan pekerjaan sebagai penjaga kuda di istana raja.

Perdana menteri sungguh tidak habis pikir dan sesungguhnya tidak bisa terima si miskin diberikan pekerjaan serta tempat tinggal yang layak di istana raja. Karena tidak mampu menahan diri, akhirnya pada suatu hari ia menyampaikan perasaannya pada sang raja. Sang raka menjawab, “Perdana menteri, menurutmu yang punya akal pikiran serta budi pekerti itu siapa? Manusia apa pohon?”.

“Tentu saja manusia tuanku, tidak bisa diragukan lagi”

“Nah…, kalu pohon yang dilempar lelaku itu berbalik memberikan buah untuk menghilangkan rasa laparnya, lalu mengapa kita… manusia yang punya budi pekerti dilempar dengan batu yang sama tetapi justru memberikan hukuman?”

Raja lanjut berkata, “seharusnya aku malu, karena ternyata di negeriku ada orang yang semiskin dan selapar dia, tanpa sepengetahuanku. Bukankah kewajibanku untuk memperhatikan kesejahteraan setiap orang yang hidup di bawah naunganku?”, “lemparan batu itu adalah peringatan bagiku”.

Mendengar kata-kata bijaksana raja, perdana menteri langsung menjatuhkan diri di kaku sang raja. Ia sangat terharu dan ternyata ia tidak salah mengabdi pada seorang raja yang selain adil dan bijaksana ternyata juga memiliki hati yang penuh kasih…

Semoga bermanfaat…Shantih…

Older posts «