Jan 21

Bakti Sosial

Baksos

INDAHNYA BERBAGI UNTUK KELUARGA!!!

Om Swastyastu,

serangkaian HUT XXI KMHD YBV Undiksha Tahun 2017 kami menyelenggarakan beberapa kegiatan yang salah satunya adalah BAKTI SOSIAL. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada RABU, 22 FEBRUARI 2017 di Panti Asuhan Ananda Seva Dharma. Berkaitan dengan hal tersebut, kami mengajak seluruh civitas akademika Undiksha (Mahasiswa/i, Bapak/Ibu Dosen, Pegawai, dll) serta masyarakat umum untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan memberikan sumbangan yang dapat berupa ALAT TULIS, SEMBAKO, dll. Sumbangan dapat dibawa langsung ke Sekretariat KMHD YBV Undiksha yang beralamat di Jl. Sahadewa No. 14 Singaraja sebelum tanggal pelaksanaan kegiatan untuk selanjutkan akan kami bantu untuk menyalurkannya. Demikian informasi ini kami sampaikan untuk diperhatikan dan ditindaklanjuti.

Om Shantih, Shantih, Shantih, Om

Selikur Warsa KMHD!!! GAGAK

Satyam Eva Jayate!!! JAYA

Jan 21

Donor Darah

donor darah

SETETES DARAH KITA AMAT BERMANFAAT BAGI MEREKA!!!

Om Swastyastu,

serangkaian HUT XXI KMHD YBV Undiksha Tahun 2017 kami menyelenggarakan beberapa kegiatan yang salah satunya adalah DONOR DARAH. Kegiatan ini akan diselenggarakan selama 2 HARI yakni SENIN dan SELASA, 20 dan 21 FEBRUARI 2017 di Depan Sekretariat Ormawa Undiksha. Kegiatan ini dimulai dari pukul 09.00 AM s.d. selesai. Berkaitan dengan hal tersebut, kami mengundang civitas akademika Undiksha (Mahasiswa/i, Bapak/Ibu Dosen, Pegawai, dll) serta masyarakat umum untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.  Disamping itu, panitia juga menyediakan piagam bagi seluruh partisipan. Demikian informasi ini kami sampaikan untuk diperhatikan dan ditindaklanjuti.

Om Shantih, Shantih, Shantih, Om

Selikur Warsa KMHD!!! GAGAK

Satyam Eva Jayate!!! JAYA

Jan 21

Pelatihan Yoga

pelatihan yoga

Om Swastyastu,

serangkaian HUT XXI KMHD YBV Undiksha Tahun 2017 kami menyelenggarakan beberapa kegiatan yang salah satunya adalah PELATIHAN YOGA. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada Minggu,19 Februari 2017 di Lapangan Upacara Kampus Tengah Undiksha. Berkaitan dengan hal tersebut, kami mengundang civitas akademika Undiksha (Mahasiswa/i, Bapak/Ibu Dosen, Pegawai, dll) serta masyarakat umum untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Setiap peserta dihimbau untuk membawa matras atau benda lainnya yang bisa digunakan sebagai alas ketika latihan. Disamping itu, panitia juga menyediakan piagam bagi seluruh peserta pelatihan. Demikian informasi ini kami sampaikan untuk diperhatikan dan ditindaklanjuti.

Om Shantih, Shantih, Shantih, Om

Selikur Warsa KMHD!!! GAGAK

Satyam Eva Jayate!!! JAYA

Jan 09

Seminar Nasional

Pamphlet Seminar NasionalOm Swastyastu,

 

Serangkaian HUT XXI KMHD YBV Undiksha Tahun 2017, kami selaku panitia menyelenggarakan beberapa kegiatan yang salah satunya adalah Seminar Nasional. Adapun tema yang akan diangkat adalah “MEMPERKUAT PENDIDIKAN AGAMA DALAM DINAMIKA MASYARAKAT URBAN”. Pendaftaran untuk mengikuti kegiatan ini dibuka dari 9 s.d. 22 Januari 2017. Sementara hari pelaksanaan kegiatannya adalah Minggu, 12 Februari 2017. Adapun cara pendaftaran, ketentuan biaya, teknis pembayaran, dan hal-hal lainnya dapat dicermati pada brosur yang kami sertakan dibawah ini.

Demikian informasi ini kami sampaikan semoga bermanfaat buat kita semua dan sampai jumpa pada 12 Februari 2017 di Gedung Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja-Bali.

 

Shantih

Satyam Eva Jayate!!!

1. SUSUNAN ACARA

2. Brosur

Dec 29

Ayo Menjadi Sponsor dan Media Partner!

Picture

 

“SEKECIL APAPUN SUMBANGSIH YANG DIBERIKAN SANGAT BERHARGA UNTUK KELANCARAN KEGIATAN”

Om swastyastu,
Serangkaian HUT XXI KMHD YBV Undiksha Tahun 2017, kami menyelenggarakan serangkaian kegiatan berbasis seni budaya dan sosial. Berkaitan dg hal tersebut kami mengajak seluruh individu maupun instansi2 untuk bersama-sama ngayah membantu pendanaan maupun penyebaran informasi kegiatan2 tersebut demi kelancaran acara HUT KMHD YBV Undiksha Tahun 2017.
Demikian kami sampaikan, NGIRING SARENG-SARENG NGAYAH!!!
Shantih
SATYAM EVA JAYATE!!!
GAGAK!!!

Dec 15

Pemilihan Truna-Truni KMHD YBV Undiksha Tahun 2017

Phamphlet

Om Swastyastu,
dengan ini kami sampaikan bahwa dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun XXI Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Yowana Brahma Vidya Undiksha Tahun 2017, kami selaku panitia pelaksana akan mengadakan Pemilihan Truna Truni KMHD YBV Undiksha Tahun 2017 antar jurusan se-Undiksha pada:
1. Babak Penyisihan
hari, tanggal : Jumat, 17 Februari 2017
waktu : 08.00 WITA s.d. selesai
tempat : Gedung Auditorium Undiksha, Jln. Udayana No. 11 Singaraja
2. Babak Final
hari, tanggal : Minggu, 26 Februari 2017
waktu : 13.45 WITA s.d. selesai
tempat : Gedung Auditorium Undiksha, Jln. Udayana No. 11 Singaraja
Sehubungan dengan hal tersebut, kami memohonkan kesediaan Saudara/i untuk ikut berpartisipasi sebagai peserta dalam kegiatan tersebut. Sebagai informasi tambahan, bersama ini kami lampirkan Surat Permohonan Delegasi, Susunan Acara (Penyisihan dan Final), Teknis Kegiatan, serta Brosur.
Demikian informasi ini kami sampaikan, atas perhatian Saudara/i kami sampaikan terima kasih.
Om Santih, Santih, Santih Om.

CP: 085792544059 (Made Darmaprathiwi Adiningsih)

Satyam Eva Jayate!!!

1.

Surat Permohonan Delegasi

2. SUSUNAN ACARA BABAK PENYISIHAN

3. SUSUNAN ACARA BABAK FINAL

4. Teknis Pemilihan Truna-Truni Tahun 2017

5. Brosur

Dec 11

KEKUATAN DHARMA DALAM MENYANGGA ALAM SEMESTA

KEKUATAN DHARMA DALAM MENYANGGA ALAM SEMESTA

Oleh: Rasa Acharya Prabhuraja Dharmayasa

(Bali Post: Minggu Kliwon, 11 Desember 2016)

alam-semesta

            “Terdapat 10 jenis ciri dharma atau kewajiban suci, antara lain: (1) Keteguhan, (2) Mengampuni, (3) Mnegontrol diri, (4) Tidak mencuri, (5) Kesucian, (6) Mengendalikan indria-indria, (7) Bijaksana, (8) Pengetahuan, (9) Kebenaran, (10) Bebas dari kemarahan”

            Nama agama kita adalah Hindu Dharma. Veda merupakan kitab suci Hindu Dharma. Kata dharma berasal dari akar kata Sansekerta “dhr” yang berarti menyangga, menjaga, menopang. Kitab Mahabharata menyebutkan bahwa karena menyangga alam semesta inilah makanya dinamakan sebagai dharma (dharanad dharmam ity ahur). Segala sesuatu yang menopang, menyangga, menjaga serta memperkuat alam semesta semua itulah dinamakan dharma.

            Maharesi Manu di dalam kitab Manava Dharma Sastra 6, 92 memberikan definisi dharma melalui laksana atau ciri perlambangan dharma yang dinamakan Dharma Dasa Laksanam (10 jenis pertanda dharma), antara lain: Dhrtih, teguh serta tekun dalam melaksanakan tugas-tugas kewajiban; Ksama, sifat mudah memaafkan, suka memberi ampun; Damai, kemampuan untuk mengendalikan diri; Asteya, tidak mencuri, tidak menipu, atau tidak berbuat curang; Sauca, selalu menjaga kebersihan dan kesucian diri lahir-batin; Indriyanigraha, mampu mengendalikan indria-indrianya dengan baik; Dhira, kuat menghadapi segala macam godaan dan cobaan; Vidya, menguasai berbagai jenis pengetahuan; Satya, menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran; dan Akrodha, bebas dari kemarahan.

            Jika orang-orang lebih banyak mengembangkan sifat-sifat mulia dharma ini, jagat raya ini akan menjadi tenang damai, subur makmur, dan orang-orang akan hidup dengan nyaman, aman, danmai dan berbahagia. Ketika orang-orang menjaga dharma dengan baik dengan cara seperti itu, maka dharma itu sendirilah yang akan melindungi mereka (dharma raksati raksitah).

            Dharma juga berarti sesuatu yang lengket dan tidak terpisahkan dengan diri sejati kita. Bagaikan rasa asin dengan garam, atau bagaikan rasa manis dengan gula. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Lebih lanjut juga adalah atma dan sebagai kewajiban sang atma (roh) datang ke dunia ini, tidak dapat dipisahkan. Itulah dharma, karena atma tidak akan ada ajeg tanpa dharma-nya.

            Guru besar filsafat Aulukya atau Vaisesika Darsana, Maharesi Kanada, memberikan definisi sangat sederhana tetapi jelas perihal dharma, yaitu segala sesuatu yang memberikan kesejahteraan material dan pada akhirnya mengantarkan kepada pembebasan atau moksa. Itulah Dharma. Segala sesuatu yang memberikan kemuliaan material maupun spiritual, baik pada diri sendiri maupun kepada yang lain, itulah Dharma (yato’bhyudaya nihsreyasa siddhih iti dharmah). Kata abhyudaya berarti mengangkat, menyejahterakan, dan memakmurkan. Sedangkan kata nihsreyasa berarti menuntun hidup orang kepada pembebasan dari keterikatan-keterikatan dan kesengsaraan dunia untuk mencapai moksa, yang merupakan tujuan akhir dan tujuan sejati dari kelahiran menjadi manusia di atas muka bumi ini (sangkan paraning dumadhi).

            Dengan demikian, dharma tidak dipatok pada suatu bentuk organisasi dan/atau perlambang-perlambang, upacara-upacara, tradisi dan lain-lain patokan dunia. Dharma mempunyai “medan” jangkauan yang maha luas, menyentuh segala bentuk hidup dan aktivitas mahluk hidup di jagatraya ini. Itulah yang menyangga alam semesta ini, yang menurut Maharesi Narada, dharma bersumber pada Trayi Veda (Rg, Yajur, dan Sama Veda) dan/atau dharma adalah segala yang mengejewantahkan sari pati ajaran Trayi Veda. Dharma bukan bentukan baru, bentukan yang entah sekian ribu atau sekian ratus ribu tahun lalu, malainkan begitu alam semesta diciptakan maka pada saat yang sama Dharma juga sudah tercipta. Oleh karena itulah ia dinamakan Sanatana Dharma, atau agama/Dharma yang kekal abadi.

            Dharma tidak hanya berlaku di dalam lingkungan kehidupan manusia melainkan ia bersifat menyeluruh, memenuhi segala bentuk hidup dan kehidupan di alam semesta material ini. Di luar alam semesta material, dharma sudah tidak eksis lagi karena ia sudah luluh dalam kesejatian. Di alam-alam pembebasan sudah tidak diperlukan lagi kewajiban-kewajiban sebab sudah mencapai pembebasan.

            Kitab-kitab Upanisad pun tidak ketinggalan memberikan penekanan pentingnya Dharma dalam hidup manusia. Mahanarayana Upanisad menyebutkan bahwa seluruh alam semesta ini berada tegak di atas topangnya Dharma (dharmo visvasya jagatah pratistha). Dharma mempunyai kekuatan maha penyangga seperti itu, yang mampu menopang tegaknya alam semesta karena Dharma itu bersumber pada seluruh ajaran Veda (vedo’khilo dharma-mulam).

            Dharma bukanlah ajaran kelompok (matha) melainkan ia adalah ajaran yang terlahir dari kebijaksanaan Veda yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa ke alam material ini, demi kemuliaan material spiritual seluruh mahluk hidup. Dharma merasuk sampai ke seluruh kehidupan mahluk-mahluk terkecil sekalipun di alam semesta ini. Bahkan lebih jauh, Dharma merasuk ke dalam hati setiap mahluk hidup khususnya insan manusia.

            Maharesi Manu lebih jauh menekankan bahwa ciri-ciri Dharma itu yang bisa dijadikan acuan untuk menentukan mana Dharma dan mana Adharma, antara lain adalah kitab suci Catur Veda, kitab-kitab Smrti Sastra, tingkah laku orang-orang suci bijaksana, dan akhirnya kata hati terdalam yang keluar dari sang atma (vedah smrtih sadacarah svasya ca priyamatmanah etat catur-vidham prahuh saksaddharmasya laksanam). Lebih jauh dari kitab Mahabaratha, Bhisma Pitamaha menjelaskan ajaran Dharma kepada Maharaja Yudisthira dengan mana akhirnya Yudisthira mampu memahami sifat alami dirinya. Dharma pada akhirnya tidak berbeda sama sekali dengan sifat alami setiap mahluk hidup.

            Selanjutnya, terdapat pemilahan Dharma sesuai dengan keberadaan berbeda, misalnya Kesatriya Dharma yaitu kewajiban bagi seorang ksatria. Ia merupakan kewajiban sesuai dengan kedudukannya di masyarakat berdasarkan pengetahuan dan pekerjaannya di masyarakat. Ada pula Brahmana Dharma, Vaisya Dharma dan Sudra Dharma.

            Terdapat pula Dharma berbeda sesuai dengan peran masing-masing di keluarga, seperti Pati Dharma adalah kewajiban seorang suami terhadap istrinya, Stri Dharma adalah kewajiban seorang istri terhadap suaminya, Putra Dharma merupakan kewajiban anak terhadap orang tua. Ada pula yang dinamakan Apad Dharma, yaitu dharma atau kewajiban suci yang dilakukan dalam keadaan sangat terpaksa, dalam keadaan emergensi, kewajiban suci kadang harus dilakukan bertentangan dengan norma-norma dharma dalam keadaan biasa. Dalam keadaan terdesak seperti itu, pengambilan keputusan dharma-adharma (baik-buruk, benar-salah, agama-bukan agama) akan sangat pelik. Keputusan yang akan membantu membimbing orang pada pengambilan keputusan dharma pada kesempatan-kesempatan terdesak seperti itu adalah kebijaksanaan orang yang diterangi oleh ilmu pengetahuan suci Veda, digabungkan dengan kejelian akan pemahaman desa (tempat, daerah), kala (waktu, kesempatan), dan patra (orang, individu).

            Dharma merupakan masalah yang sangat pelik dan tidak mudah disentuh bahkan oleh orang-orang terpelajar. Ada pula yang mempersembahkan Dharma dengan ketidakbohongan yang tak bisa ditawar. Dalam hal ini contohnya adalah Raja Yudhistira. Cerita ini semua sudah mengetahuinya, Yudhistira, yang juga disebutkan sebagai avatara dari Dewa Dharma sendiri, pada akhirnya “gagal” dalam pencapaian puncak Ksatriya Dharma-nya ketika dalam peperangan di Kuruksetra antara pihaknya, (Pandava) dengan Kaurava, ia disuruh berbohong oleh Krsna, bahwa Asvathama, putra dari Guru Drona sudah mati. Akan tetapi, Yudhistira tidak mematuhi perintah Sri Krsna sepenuh hati. Setelah mengiyakan Drona, secara berbisik ia mengatakan “tetapi gajah Asvathama yang mati…” (naro va kunjaro va).

            Pada akhirnya, yang dianggap paling sempurna memahami Dharma adalah Dewa Yama. Oleh karena itulah beliau mendapat wewenang penuh dalam menentukan dharma, dan menjabat sebagai Dewa Kematian, yang mengadili roh-roh mahluk yang sudah meninggalkan badan kasarnya alias mati. Dewa Kematian adalah Dewa yang sepenuhnya mengetahui Dharma, dan beliaulah Dewa yang merupakan otoritas penentu aturan-peraturan Dharma, makanya Dewa Kematian dinamakan Dewa Yama, dan juga Dewa Dharma.

Nov 24

Undangan Lomba Mapidarta Bali

Mapidarta Bali

Om Swastyastu,

serangkaian HUT XXI KMHD YBV Undiksha Tahun 2017, kami selaku panitia pelaksana kembali menyelenggarakan Lomba Mapidarta Bali Tingkat SMP se-Kabupaten Buleleng Tahun 2017. Berkenaan dengan hal tersebut, kami mengundang adik-adik siswa/i SMP se-Kabupaten Buleleng untuk ikut berpartisipasi untuk mengikuti  lomba tersebut. Untuk informasi lebih lanjut, berikut kami lampirkan susunan acara, brosur, dan form pendaftaran.

Demikian informasi ini disampaikan, atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.

Om Shantih, Shantih, Shantih, Om

Selikur Warsa KMHD! GAGAK!!!

Satyam Eva Jayate! Jaya!!!

1. SUSUNAN ACARA

2. Brosur

3. Formulir Pendaftaran

4. Surat Undangan

Nov 21

Undangan Lomba Masatua Bali

Masatua Bali

Om Swastyastu,

serangkaian HUT XXI KMHD YBV Undiksha Tahun 2017, kami selaku panitia pelaksana kembali akan menyelenggarakan Lomba Masatua Bali Tingkat SD se-Kabupaten Buleleng Tahun 2017. Berkenaan dengan hal tersebut kami mengundang adik-adik siswa/siswi SD se-Kabupaten Buleleng untuk ikut berpartisipasi sebagai peserta lomba dalam perlombaan tersebut. Untuk informasi lebih lanjut, berikut kami sertakan susunan acara, brosur, dan form pendaftaran.

Demikian informasi ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Satyam Eva Jayate ! Jaya!!!

Selikur Warsa KMHD! GAGAK!!!

1. SUSUNAN ACARA SATUA BALI

2. BROSUR

3. Formulir Pendaftaran

4. Surat undangan

Nov 20

KESEMPURNAAN MAHARESI KRSNA-DVAIPAYANA VYASA

KESEMPURNAAN MAHARESI KRSNA-DVAIPAYANA VYASA

Oleh: Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa

(Bali Post: Minggu Wage, 20 November 2016) 240px-Vyasa_dictating_Mahabharata

“Hana sira maharsi, tan hana kapinggingnira, kinatwangan ing triloka, rumantasaken petengning ajnananing sarwabhawa, anak sang Satyavati, patemwan lawan Bhagavan Parasara, prasuta ri tengahnikang Krsna-dvipa, Bhagavan Byasa ngaranira, sira ta sembahen, kamnan inghulun mujarakena saraning gawenira aji”

            Tersebutlah seorang Maharesi, tidak ada sesuatu pun yang tidak beliau ketahui, dipuja-puja oleh Triloka, mempunyai kemampuan untuk melenyapkan kegelapan pikiran seluruh mahluk. Beliau adalah putra dewi Satyawati, dari pertemuannya dengan Bhagavan Parasara, yang terlahirkan di tengah-tengah (pulau kecil) Krsna-dvipa. Nama beliau adalah Bhagavan Byasa, yang sangat patut disembah, sebelum hamba mulai menyampaikan sari-sari ajaran suci karya beliau.

            Kebanggaan tidak terbantahkan bahwa kita mempunyai seorang Maharesi yang mahaterpelajar, menguasai seluruh ajaran Veda, beliau adalah Maharesi Krsnadvaipayana Veda Vyasa. Terdapat beberapa pendapat yang mengatakan perihal adanya banyak nama Vyasa (29 Vyasa termasuk Vyasa Parasaraputra). Akan tetapi, Vyasa yang disebutkan di sisni sebagai yang “mengurai” Veda adalah Vyasa, putra dari Matsyakanya Dewi Satyawati dengan Maharesi Parasara, yang dilahirkan di sebuah pulau kecil “krsnaa” di tengah sungai Suci Yamuna. Maharesi Parasara dengan menggunakan kesaktiannya membuat pulau kecil itu tetutupi oleh awan gelap. Oleh karena itulah pulau tersebut dinamakan Krsna-dvipa. Krsna berarti hitam atau gelap, dan dvipa berarti pulau. Dengan demikian tidak akan ada kekacauan tafsir mengenai Vyasa yang mana yang dimaksudkan di dalam penulisan Mahabharata ini, sebab sudah sangat jelas disampaikan melalui “anak sang Satyawati, patemwan lawan Bhagavan Parasara, prasuta ri tengahnikang Krsna-dvipa, Bhagavan Vyasa ngaranira”, bahwa Vyasa yang dimaksudkan di sini adalah putra Maharesi Parasara dengan Dewi Satyawati yang mempunyai putra dengan kemampuan agama spiritual mahatinggi bernama Sukadeva, dari istrinnya bernama Pinjala, putri Maharesi Jabali.

            Menariknya, kitab suci Sarasamuccaya menyebutkan perihal keagungan, keutamaan atau kemampuan Maharesi Vyasa dengan sangat menarik, sebagai berikut:

            Tan hana kapingging nira: bahwa tidak ada sesuatu pun yang tidak diketahui oleh beliau. Kalimat ini mempertegas level kemaharesian yang sudah dicapai oleh beliau. Tan hana kapingging nira, tidak ada sesuatu apa pun di dunia ini yang lepas dari tangkapan pengetahuan beliau. Kalimat ini sangat sesuai dengan definisi kata Resi (rsi) itu sendiri, yaitu beliau yang melihat mantram (mantra drstarah), beliau yang melihat segala hal-hal yang spiritual, beliau yang melihat kebenaran secara menyeluruh, itulah yang dinamakan rsi (Resi) atau Maharesi, (perihal rsi, maharesi dan lain-lain bisa dilihat pada buku Studi Ringkas Catur Veda). Seorang Maharesi di dalam ajaran Dharma Sanatana adalah beliau yang sudah mencapai kesempurnaan mahasempurna, yang sudah melihat kebenaran secara gambling. Orang suci seperti itu dinamakan Trikala-jnani, yaitu beliau yang mengetahui masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Orang-orang suci seperti itulah yang menulis kitab-kitab suci Veda, dan ornag-orang suci seperti itu sudah sangat jauh dari sentuhan kebohongan. Oleh karena itulah, orang-orang suci seperti beliau-beliau itulah yang berhak dan layak menulis ketab-kitab suci, akan memberikan penerangan sangat jelas dan pasti kepada seluruh dunia, begaikan sinar terang benderang matahari yang menghalau kegelapan malam, menyebabkan segala sesuatu menjadi sangat jelas terang benderang, kecuali jika orang yang membaca kitab suci itu masih belum siap meninggalkan rasa iri hati, dengki, amarah, dan lain-lain, yang menyebabkan kitab suci itu akan “diterjemahkan” ke dalam kalimat-kalimat kecil dan dimanfaatkan untuk pencapaian kepentingan-kepentingan duniawi.

            Kinatwanganing ing tri loka: beliau dipuja-puja oleh bukan hanya para penduduk bumi ini tetapi juga oleh seluruh penduduk Triloka, termasuk para dewa/malaikat. Jika para pengagung Maharesi Krsna-dvaipayana Vyasa juga termasuk para resi, muni, yogi dan bahkan para dewa, maka dapat dibayangkan siapa dan bagaimana Maharesi Vyasa tersebut. Dan… itulah orang suci “Nabi” dari agama Sanatana, agama kekal abadi. Kebanggaan “mengenal” dan mendapat karunia “tetesan amerta” dari kitab-kitab suci Veda yang ditulis oleh beliau, sepantasnya dimiliki oleh insan manusia di atas muka bumi ini, baik yang sudah lahir dahulu, oleh kita-kita yang lahir pada zaman sekarang ini, dan termasuk oleh mereka yang akan hadir di dunia ini pada masa yang akan datang.

            Sebagaimana Omkara adalah avatara Tuhan dalam bentuk aksara suci, dalam bentuk kitab suci adalah Bhagavad-Gita, dalam bentuk mantram adalah Gayatri, demikian pula Maharesi Vyasa adalah avatara Tuhan Yang Maha Esa dalam rupa seorang Maharesi. Barangkali itulah yang menyebabkan Ganesha berkenan menjadi “sekretaris”-nya, sampai mengorbankan satu taringnya yang dipergunakan untuk menuliskan amerta Veda yang disampaikan oleh Maharesi Vyasa.

            Bagi mereka yang ingin menyampaikan sembah sujudnya kepada Maharesi Vyasa, dapat melakukan pemujaan setiap pagi mengawali sembahyangnya, atau sebelum memulai membaca kitab suci dengan doa pujian sebagai berikut: Namos’tu tevyasa visala budhir, phullaravindayata patra-netram, yena tvaya bharata-taila purnah, prajvalito-jnana-mayah pradipah.

            Rumentasaken petengning ajnananing sarva-bhava: Maharesi Vyasa juga memiliki kemampuan untuk menghalau kegelapan atau kebodohan seluruh mahluk hidup. Kata sarva-bhava menunjukkan seluruh mahluk hidup, dan bukan hanya manusia (lihat cerita “Sang Ulat dan Maharesi Vyasa”). Kadang, pada teks lain penulisan petengning ajnananing tertulis petengning jnananing. Dalam petengning ajnananing dimaksudkan penegasan kata kegelapan/kebodohan, dan hal ini merupakan hal yang sangat biasa dalam penulisan sastra. Namun, penulisan petengning jnananing juga tidak bisa disalahkan begitu saja, sebab ia berarti kegelapan pengetahuan, yaitu kebodohan. Rumantasaken, bahwa beliau mampu menghilangkan, petengning jnananing, kegelapan pengetahuan alias kebodohan. Namun, jika kita kembali kepada teks, maka kemungkinan besar teks sumber adalah petengning ajnananing.

            Sering kita melihat orang disembah-sembah di dunia ini. Memang, kecenderungan orang-orang yang sifat rajas-nya masih cukup dominan adalah suka memuji atau menyembah manusia terkenal atau sakti. Ada yang memuja bintang film Hollywood atau Bollywood, ada yang memuja pemain sepak bola, pembalap, atau kalau di India publik sangat mudah mengagung-agungkan dan memuja bintang olah raga kriket, bahkan memasang foto pemain kriket di altar pemujaan, lalu memujanya. Demikian pula di belahan lain dunia, pemujaan manusia dilakukan dalam bentuk lain. Tidak ada salahnya senang pada ketrkenalan atau kesaktian, namun, orang hendaknya belajar menempatkannya dengan baik dan tepat sasaran.

            Dalam bait di atas diberikan persyaratan yang indah perihal siapa yang patut “disembah”. Tasmainmah, sembah sujud kepada beliau, atau dalam Jawa Kuna-nya sira ta sembahen, artinya beliaulah yang hendaknya disembah. Beliau siapakah yang dimaksuh? Apakah beliau-beliau yag mampu memberikan segala kehebatan duniawi seperti uang, rumah, pekerjaan, jabatan? Ataukah mereka yang mampu memberikan keris sakti, batu-batu berharga, cincin atau jimat-jimat yang berbau kesaktian?

Older posts «