Euforia Menjelang Tahun Baru 2026 dan Fenomena Perilaku Menyimpang
Momentum pergantian tahun selalu menghadirkan dinamika sosial yang khas dalam kehidupan masyarakat. Menjelang Tahun Baru 2026, fenomena euforia kolektif kembali muncul dalam berbagai bentuk perayaan, mulai dari pesta hiburan, konvoi kendaraan, konsumsi minuman beralkohol, penggunaan petasan secara masif, hingga aktivitas malam hari yang kerap melampaui batas kewajaran. Dalam praktiknya, euforia tersebut tidak jarang berujung pada perilaku menyimpang, seperti kecelakaan lalu lintas akibat kelalaian, perusakan fasilitas umum, pergaulan bebas, tindak kekerasan, serta berbagai bentuk pelanggaran hukum lainnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa perayaan tahun baru tidak selalu dimaknai sebagai momen refleksi, melainkan lebih sering dipahami sebagai ruang pelampiasan hasrat dan kebebasan tanpa kendali. Dari sudut pandang agama Hindu, kondisi tersebut mencerminkan melemahnya pengendalian diri serta bergesernya orientasi spiritual manusia di tengah arus modernitas dan budaya hedonisme yang semakin menguat.

Dalam ajaran Hindu, waktu atau kala tidak dipahami secara sederhana sebagai rangkaian detik, menit, dan tahun yang bergerak secara mekanis. Waktu merupakan kekuatan kosmis yang memiliki dimensi spiritual dan teologis yang mendalam. Hal ini ditegaskan dalam Bhagavad Gita 10.30, ketika Sri Krishna menyatakan “Kālaḥ kalayatām aham”, yang berarti bahwa di antara segala pengendali, Tuhan menampakkan diri-Nya sebagai waktu. Sloka ini menegaskan bahwa seluruh dinamika kehidupan, termasuk pergantian tahun, berada dalam kuasa Ilahi. Oleh karena itu, setiap momen waktu seharusnya diperlakukan dengan kesadaran, tanggung jawab moral, dan refleksi spiritual. Pergantian menuju Tahun Baru 2026 bukanlah peristiwa profan yang bebas nilai, melainkan ruang sakral untuk mengevaluasi diri dan memperbarui komitmen terhadap nilai-nilai dharma. Tradisi Hindu di Bali memberikan teladan yang jelas melalui perayaan Tahun Baru Saka dalam bentuk Hari Raya Nyepi, di mana tahun baru tidak dirayakan dengan hiruk-pikuk dan euforia, melainkan dengan keheningan, pengendalian diri, serta tapa brata. Hal ini menegaskan bahwa dalam perspektif Hindu, makna tahun baru tidak terletak pada ledakan kesenangan indria, melainkan pada pendalaman kesadaran batin.

Euforia menjelang tahun baru sering dipersepsikan sebagai wujud kebahagiaan dan kebebasan, padahal ajaran Hindu mengingatkan bahwa kebahagiaan yang bersumber dari pemuasan indria bersifat sementara, semu, dan ilusif atau maya. Kebahagiaan semacam ini tidak pernah memberikan kepuasan sejati, bahkan justru melahirkan keterikatan dan penderitaan baru. Bhagavad Gita,secara konsisten menekankan bahwa kenikmatan indria yang tidak dikendalikan oleh kebijaksanaan akan menyeret manusia menjauh dari keseimbangan batin. Dalam konteks euforia menjelang Tahun Baru 2026, manusia sering terjebak dalam pencarian kesenangan instan tanpa mempertimbangkan dampak moral dan sosialnya, sehingga batas antara perayaan yang wajar dan perilaku menyimpang menjadi semakin kabur.

Fenomena perilaku menyimpang ini dapat dianalisis melalui konsep Tri Guna dalam ajaran Hindu, yaitu sattva, rajas, dan tamas. Sattva melambangkan kejernihan, kebijaksanaan, dan keharmonisan; rajas mencerminkan hasrat, ambisi, dan kegelisahan; sedangkan tamas melambangkan kegelapan, kelalaian, dan ketidaksadaran. Euforia berlebihan menjelang Tahun Baru 2026 umumnya dipicu oleh dominasi rajas yang mendorong nafsu dan keinginan tak terkendali, serta diperparah oleh tamas yang menyebabkan hilangnya kesadaran moral. Kondisi ini sejalan dengan ajaran Bhagavad Gita 14.17 yang menyatakan bahwa dari sattva lahir pengetahuan, dari rajas lahir keinginan, dan dari tamas lahir kebingungan. Ketika unsur sattva tidak diberi ruang, manusia dengan mudah terjerumus ke dalam perilaku yang bertentangan dengan dharma.
Dalam Hindu, dharma merupakan prinsip moral dan kosmis yang menopang keteraturan kehidupan, mencakup kewajiban individu, etika sosial, serta tanggung jawab spiritual manusia terhadap sesama dan alam semesta. Perilaku menyimpang seperti mabuk-mabukan, kebut-kebutan, kekerasan, atau perusakan fasilitas umum atas nama perayaan Tahun Baru 2026 merupakan bentuk nyata penyimpangan dari dharma. Kitab Manusmriti menegaskan bahwa kehancuran masyarakat berawal dari ditinggalkannya dharma oleh manusia. Dengan demikian, perilaku menyimpang tidak dapat dipandang semata-mata sebagai kesalahan personal, melainkan sebagai ancaman serius terhadap keharmonisan sosial dan keseimbangan kosmis.
Proses kejatuhan moral manusia juga digambarkan secara jelas dalam Bhagavad Gita 2.62–63, yang menjelaskan bahwa dari memikirkan objek kenikmatan timbul keterikatan, dari keterikatan lahir keinginan, dari keinginan muncul kemarahan, dari kemarahan timbul kebingungan, dari kebingungan hilang ingatan, dari hilangnya ingatan hancurlah kebijaksanaan, dan dari hancurnya kebijaksanaan manusia menuju kehancuran. Rangkaian ini sangat relevan dalam membaca fenomena euforia menjelang Tahun Baru 2026, di mana rangsangan eksternal memicu keterikatan indria yang pada akhirnya menghilangkan kendali diri dan kebijaksanaan.

Sebagai jalan etis, ajaran Hindu menawarkan konsep Tri Kaya Parisuda yang menekankan penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Melalui pengendalian pikiran agar tidak dikuasai oleh nafsu dan euforia semu, pengendalian ucapan agar tidak menyebarkan ajakan destruktif, serta pengendalian tindakan agar tetap selaras dengan dharma dan tanggung jawab sosial, perayaan Tahun Baru 2026 dapat dimaknai sebagai kegembiraan yang berkesadaran, bukan sebagai pelampiasan tanpa kendali. Selain itu, kitab Sarasamuscaya menegaskan keutamaan kelahiran sebagai manusia karena manusia dianugerahi kemampuan membedakan baik dan buruk, serta memiliki kewajiban moral untuk memilih jalan kebajikan. Pesan ini menjadi sangat relevan menjelang Tahun Baru 2026, ketika manusia dihadapkan pada pilihan antara mengikuti arus euforia atau mempertahankan kesadaran dharma.
Agama Hindu tidak menolak kebahagiaan dan perayaan, namun secara tegas menolak euforia yang melahirkan perilaku menyimpang dan menghilangkan kesadaran moral. Pergantian menuju Tahun Baru 2026 seharusnya dimaknai sebagai momentum refleksi, pengendalian diri, dan pembaruan spiritual. Tahun baru tidak cukup dimaknai sebagai perubahan angka kalender, tetapi harus diiringi dengan perubahan kualitas kesadaran, moralitas, dan komitmen terhadap dharma. Dengan berlandaskan ajaran Bhagavad Gita, Sarasamuscaya, konsep Tri Guna, dan Tri Kaya Parisuda, manusia diharapkan mampu menyambut Tahun Baru 2026 dengan kebijaksanaan dan kesadaran spiritual, bukan dengan euforia yang menyesatkan.
Sebagai mahasiswa Hindu, KMHD YBV Undiksha, kajian ini mengajak kita melihat euforia tahun baru bukan sekadar sebagai perayaan, tetapi sebagai ujian kesadaran diri. Ajaran Hindu sudah jelas mengingatkan tentang pengendalian diri, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral dalam menyikapi kebebasan.
Lalu, menurut semeton, selama ini kita menyambut tahun baru sebagai momen refleksi atau sekadar ikut arus euforia? Sebagai mahasiswa Hindu, di posisi mana kita berdiri ketika perilaku menyimpang itu terjadi apakah akan diam, ikut, atau berani bersikap?
Kajian ini tidak berhenti pada pemahaman, tetapi mengajak kita menentukan sikap. Menyambut Tahun Baru 2026, pilihan ada di tangan kita masing-masing.
Selamat Tahun Baru 2026 Semeton!
